BANDUNG, Suararadarcakrabuana.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan, sayembara bagi warga yang membantu menangkap pelaku begal dan kejahatan jalanan bukan bertujuan mengajak masyarakat memburu pelaku demi hadiah.
Menurut dia, kebijakan tersebut dibuat agar warga lebih peduli menjaga keamanan lingkungan sekaligus menghindari aksi main hakim sendiri. Dedi menerangkan, budaya memberi penghargaan sudah lama digunakan untuk memacu semangat seseorang melakukan hal yang baik.
“Karena begini, tradisi bangsa kita itu tradisi hadiah. Di sekolah, kalau ada ranking pertama dan diumumkan, belajarnya jadi rajin. Kemudian daerah, kalau dilombakan, juga jadi rajin,” ujarnya
Ia menilai, adanya hadiah justru bisa mencegah warga menghakimi pelaku kejahatan di tempat. Pelaku diharapkan diserahkan kepada polisi agar diproses sesuai hukum.
“Logikanya sederhana. Misalnya ada maling motor, jangan digebuki sampai mati. Kalau ada sayembara dari saya, tidak usah digebuki sampai mati, lumayan Rp 10 juta kalau diantarkan. Itu secara psikologis akan memengaruhi,” kata Dedi.
Selain itu, Dedi berharap sayembara tersebut bisa membuat warga lebih aktif ronda dan menjaga lingkungan.
“Jadi ini dibuat untuk memicu orang, misalnya ronda. Sudah, ronda saja. Nanti kalau ada maling ayam, kan lumayan. Nah, yang seperti itu harus memacu warga kita. Warga kita kan belum seperti warga di negara maju lainnya. Kita harus terus dimotivasi,” terangnya.
Dedi juga menjawab kekhawatiran bahwa sayembara itu bisa memicu warga memburu pelaku atau menimbulkan konflik. Ia memastikan hadiah hanya diberikan jika pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian dan diserahkan tanpa mengalami penganiayaan.
“Kalau dalam keadaan babak belur, ya tidak boleh. Tidak boleh mereka diserahkan dalam keadaan babak belur. Lecet sedikit mungkin boleh, tapi kalau babak belur, kita tidak kasih hadiah,” kata Dedi.
KDM menambahkan, pemberian insentif merupakan cara untuk mendorong masyarakat ikut berperan menjaga keamanan. Dedi menilai, setelah sayembara diumumkan, patroli warga mulai ramai dilakukan di sejumlah wilayah di Bandung Raya.
“Pertanyaan saya, mana sih yang sekarang tidak ada pragmatis? Orang bekerja juga ingin ada honor. Kalau kita menunggu wacana terus, tidak selesai-selesai. Buktinya baru semalam, sekarang patroli sudah mulai ramai,” katanya.
Wonk Alit/SRC




