Jawa Timur. Suararadarcakrabuana.com – Suasana lengang menyelimuti Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Tambakromo di Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, (16/8/2026).
Koperasi yang berlokasi persis di tepi jalan Ngawi-Maospati itu tampak minim aktivitas. Tiga etalase panjang bercat merah yang berjajar di dalamnya pun terlihat nyaris kosong, dengan barang dagangan hanya menumpuk di bagian ujung saja.
Jumlah komoditas yang dipajang untuk dijual juga tergolong minim. Dari rak-rak itu, hanya tampak minyak goreng, sabun cuci, pasta gigi, beras, gula, kapas, bumbu dapur instan, cairan pembersih lantai, mie instan, serta beberapa jenis makanan ringan.
Kondisi ini mencerminkan geliat usaha KDMP Tambakromo yang, sejak beroperasi lima bulan terakhir, berjalan dalam bayang-bayang ketidakpastian. Perputaran omzetnya pun masih jauh dari kata ideal, belum menembus angka lima juta rupiah per bulan.
Baca juga ;
“Omzet kami masih kecil. Belum sampai lima juta dalam sebulan,” kata Ketua KDMP Tambakromo, David Trihandoko, Jumat.
KDMP Tambakromo tercatat sebagai satu-satunya koperasi di Kabupaten Ngawi yang sudah resmi menempati sekaligus beroperasi di gedung KDMP yang baru dibangun. Namun di balik status “yang pertama” itu, tantangan pengadaan barang tetap menjadi ganjalan.
David mengungkapkan, kemampuan modal para anggota koperasi masih sangat terbatas. Kondisi ini tak lepas dari jumlah anggota yang baru mencapai 68 orang saat koperasi ini pertama kali dibentuk.
“Kami membeli barang dari hasil iuran anggota koperasi,” ujar David.
Menurut David, dua komoditas yang paling diminati warga adalah gas elpiji ukuran 3 kg dan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan). Sayangnya, stok kedua barang tersebut di koperasinya masih jauh dari mencukupi permintaan.
“Seminggu kami hanya stok 25 tabung saja. Harga per tabung dari agen sebesar Rp 16.000. Maka kami jual ke warga Rp 18.000 agar kami mendapatkan untung,” kata David.
David mengatakan, KDMP banyak didatangi warga saat gas elpiji dan beras SPHP datang, biasanya gas elpiji datang pada hari Jumat, Senin atau Selasa.
Baca juga ;
Jauh sebelum menempati gedung baru yang menelan anggaran hingga miliaran rupiah itu, KDMP Tambakromo sempat berjualan seadanya, memanfaatkan teras kantor desa sebagai lapak sementara.
Demi menekan pengeluaran, para pengurus koperasi pun rela berjaga secara bergiliran tanpa dibayar. Konsekuensinya, jam operasional KDMP jadi terbatas — hanya buka tiga jam sehari, mulai pukul 08.30 hingga 12.00 WIB.
“Kita buka paling setengah hari. Ngapain buka lama karena tidak ada barangnya. Sabtu dan Minggu kami juga libur,” ungkap David.
David pun tidak mengetahui kapan isian barang akan dikirimkan dari Agrinas ke KDMP Tambakromo. Namun, dia acapkali hanya menerima barang kiriman dari penyedia barang untuk kelengkapan KDMP.
Dia bercerita, dahulu pernah mendapatkan jatah pasokan minyak goreng bersubsidi dari Bulog Madiun. Namun jatah itu hanya berlaku dua bulan saja. Bulog berdalih minyak bersubsidi hanya untuk UMKM pasar.
“Padahal yang buat ramai untuk jualan barang bersubsidi,” ujar David.
Lebih lanjut, David mengaku bingung arah bisnis jualan KDMP seperti apa. Pasalnya, sampai saat ini belum ada arahan dari pemerintah pusat. Padahal kendaraan truk, pikap hingga dua unit sepeda motor roda tiga sudab terparkir di gudang belakang sejak beberapa bulan lalu.
“Sekarang ndongkrok di dalam. Paling saya hanya panasi dua hari sekali. Karena digudang isinya kosong mlompong,” ungkap David.
David bersyukur dirinya masih punya penghasilan lain dari bertani.
Dia pun mengharapkan ada kejelasan dari agrinas terkait stok barang yang akan dijual. Terlebih, saat ini dirinya tidak tahu orang yang menjadi manager KDMP Tambakromo.
(wonk Alit/SRC)




