Artikel. Suararadarcakrabuana.com -Lima tokoh pribumi yang sering disebut sebagai antek-antek Belanda dalam sejarah Indonesia adalah Kapitan Jonker, Arung Palakka, Tololiu Hermanus Willem Dotulong, Jesajas Pongoh, dan Raden Ario Majang Koro.
Mereka dianggap bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda dalam berbagai peperangan dan ekspedisi, sehingga dicap sebagai pengkhianat oleh sebagian pihak.
Dalam masa penjajahan Belanda di Nusantara, tidak sedikit tokoh pribumi yang justru memilih bekerja sama dengan penjajah.
Baca juga ; https://www.suararadarcakrabuana.com/10-tokoh-kesehatan-paling-berpengaruh-di-dunia/
Beberapa dari mereka bahkan menduduki posisi penting dalam angkatan bersenjata Belanda dan membantu kompeni dalam menaklukkan berbagai wilayah di tanah air. Akibat kerja sama ini, sejumlah tokoh tersebut dikenang dalam sejarah sebagai pengkhianat bangsa.
Mari kita simak siapa saja lima tokoh pribumi yang disebut sebagai antek penjajah Belanda pada masa itu
1. Kapitan Jonker

Kapitan Jonker adalah tokoh asal Ambon yang mengabdi pada VOC hingga wafat pada tahun 1689. Ia dikenal sebagai pemimpin pasukan dari Maluku yang membantu VOC dalam berbagai peperangan, mulai dari Sumatera, Jawa Timur, Banten, hingga melawan pasukan Trunojoyo (1675–1682).
Dalam menjalankan tugasnya, ia didukung oleh pasukan dari Maluku, Bugis, dan Mardijker.
2. Arung Palakka

Arung Palakka adalah Sultan Bone (1672–1696) yang tercatat menjalin kerja sama erat dengan VOC. Ia membantu Belanda menaklukkan Kerajaan Gowa dan merebut Kota Makassar, serta terlibat dalam konflik dengan pasukan Minangkabau.
Meski dicap sebagai pengkhianat oleh sebagian pihak karena keberpihakannya kepada VOC, banyak masyarakat Bugis justru menganggapnya sebagai pahlawan karena dinilai membebaskan rakyat Bugis dari dominasi Gowa.
3. Tololiu Hermanus Willem Dotulong

Lahir pada 12 Januari 1795 di Kema, Maluku, Tololiu Dotulong adalah pemimpin pasukan Tulungan dari Karesidenan Manado.
Baca juga ; https://www.suararadarcakrabuana.com/suara-radar-cakrabuana-membuka-peluang-berkarya/
Ia memimpin 1.242 tentara dan membantu VOC dalam menumpas pasukan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa, serta dalam Perang Tondano (1808–1809).
Dotulong wafat pada 18 November 1888 di Sonder.
4. Jesajas Pongoh
Jesajas Pongoh, kelahiran Airmadidi, Manado pada 7 Mei 1878, adalah seorang Sersan KNIL (tentara kolonial Belanda). Ia terlibat dalam Perang Aceh periode II (1896–1900), dan atas jasanya.
Ia dianugerahi kehormatan Ridder Willems-Orde kelas III oleh kerajaan Belanda. Karier militernya terus menanjak hingga mencapai pangkat Sersan Kelas Satu pada 26 September 1921.
5. Raden Ario Majang Koro

Kolonel Raden Ario Majang Koro, bangsawan asal Bangkalan, Madura, lahir pada tahun 1832. Ia terlibat dalam sejumlah perang di bawah komando Belanda, termasuk Perang Bali (1849), Perang Aceh (1875), serta ekspedisi ke Borneo Barat (1850–1854) dan Lombok (1894).
Sebagai penghargaan, ia dianugerahi medali kehormatan Ridder Militaire Willems-Orde Kelas IV.
Baca juga ; https://www.suararadarcakrabuana.com/riwayat-ki-gedeng-tapa-mertua-prabu-siliwangi/
Kelima tokoh ini menunjukkan sisi kompleks dari sejarah Indonesia, tidak semua peran pribumi dalam masa penjajahan berada di sisi perlawanan.
Beberapa memilih bekerja sama dengan kekuatan kolonial baik demi kepentingan pribadi, politik, maupun karena alasan yang hanya bisa dijelaskan dalam konteks zaman mereka.
Sejarah Nasional
Penulis Redaksi Rakhmat sugianto.SH




