Banten. Suararadarcakrabuana.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bagi masyarakat Suku Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, dapat dilaksanakan apabila mendapat kesepakatan dari para tokoh adat setempat.
“Kita akan musyawarah untuk membahas program MBG bersama tokoh adat masyarakat Badui,” kata Sekretaris Desa Kanekes, Medi, saat dihubungi di Rangkasbitung, Lebak, Sabtu (8/11/2025).
Menurut Medi, masyarakat Badui selama ini menerima berbagai program pemerintah selama tidak bertentangan dengan lembaga adat. Setiap kebijakan atau bantuan yang masuk ke wilayah adat selalu melalui persetujuan para tetua adat.
“Semua keputusan tetap ditentukan oleh tokoh adat, apakah program itu diterima atau ditolak,” ujar Medi.
Medi mencontohkan, masyarakat Badui menerima bantuan pangan berupa beras dari pemerintah setelah mendapat restu para tokoh adat. Namun, ada pula program yang ditolak, seperti dana desa (DD), karena dinilai tidak sesuai dengan tatanan adat yang berlaku.
Ia menegaskan, rencana pemerintah menggulirkan program MBG bagi masyarakat Badui harus dilakukan dengan pendekatan budaya dan menghormati keputusan lembaga adat.
“Kami di pemerintahan desa siap mendukung, asalkan sudah ada kesepakatan tokoh adat,” katanya.
Sementara itu, Ketua Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Lebak, Asep Royani, mengatakan pihaknya mengusulkan agar masyarakat Suku Badui masuk dalam penerima program MBG di wilayah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T).
Menurutnya, program tersebut penting untuk mendukung ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat Badui yang tinggal di wilayah terpencil.
“Saat ini kami masih mengkaji teknis dan mekanisme pendistribusian program MBG di kawasan permukiman Suku Badui,” ujar Asep.
Senada, Ketua Koordinator Sahabat Relawan Indonesia (SRI), Muhammad Arief Kirdiat, menyambut positif rencana penerapan program MBG bagi masyarakat Badui. Ia menilai program itu dapat membantu pemenuhan gizi anak-anak Badui dan menekan kasus penyakit akibat kekurangan gizi.
“Selama ini kasus gizi buruk di permukiman Badui cukup tinggi dan memicu berbagai penyakit seperti TBC dan stunting. Kami memperkirakan sekitar 4.000 anak Badui perlu mendapatkan layanan MBG,” kata Arief.
Dani / Wonk Alit




