Bandung, Suararadarcakrabuana.com – Walaupun dalam tekanan fiskal dan defisit anggaran yang dirasa cukup berat, namun Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi, tetap berkomitmen untuk memacu sektor pembangunan di Jabar.
Menurut KDM -sapaan akrab- Dedi Mulyadi, bahwa kondisi fiskal Jawa Barat saat ini menghadapi tantangan besar, hal itu akibat beban utang daerah serta penurunan pendapatan, khususnya dari Dana Bagi Hasil (DBH
Selain itu, Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) di Jabar, terdampak perlambatan industri otomotif. “Hari ini kita tahu bagaimana kondisi bisnis motor dan mobil (otomotif) turun. Tetapi anggaran pembangunannya meningkat. Ya pasti terjadi defisit,” kata KDM, dilansir laman Pemprov Jabar, Sabtu (3/1/2026).
“Namun, bersama DPRD dan pemangku kepentingan lainnya, kita tetap siap menghadapi kondisi ini. Pembangunan tidak boleh berhenti, kita tidak boleh menyerah,” tegasnya menambahkan.
Meski dibayangi tantangan anggaran, KDM memastikan fokus pembangunan di tahun 2026 ini tetap diarahkan pada penguatan infrastruktur strategis guna meningkatkan konektivitas dan ekonomi warga.
Sejumlah proyek prioritas yang akan dilaksanakan dan dilanjutkan meliputi penyelesaian Penerangan Jalan Umum (PJU) terintegrasi diberbagai titik, dan pembangunan jembatan besar, seperti di Kabupaten Karawang dan kawasan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung, serta pembangunan jembatan layang (flyover) di Bulak Kapal, Kota Bekasi.
Pemdaprov Jabar juga memproyeksikan pembangunan di jalur Puncak Dua, pembangunan Underpass di Kota Cimahi, hingga pembebasan lahan untuk jalan terusan di kawasan Padalarang.
“Ini proyek-proyek besar, kami optimistis seluruhnya bisa dilaksanakan,” ucap KDM.
Selain infrastruktur, penataan ruang menjadi agenda krusial Pemprov Jabar. KDM menyoroti degradasi lingkungan yang memicu banjir di berbagai daerah akibat tata ruang yang tidak konsisten.
“Ada faktor tata ruang yang salah. Ini sedang kita benahi dan akan dibahas perubahan tata ruang untuk seluruh Jawa Barat, mulai Januari,” pungkasnya
Wonk Alit




