BANDUNG. Suararadarcakrabuana.com – Pengamat Politik Firman Manan menyampaikan sejumlah faktor yang menyebabkan indikator kepuasan warga Jawa Barat terhadap Gubernur Dedi Mulyadi, mendapat respons yang positif.
Berdasarkan hasil survei Indikator Politik Indonesia pada 30 Januari – 8 Februari 2026, menggunakan metode multistage random sampling terhadap 800 responden, dengan margin of error sebesar 3,5 persen, tingkat kepercayaan 95 persen.
Tercatat 35,8 persen responden menyatakan sangat puas, 59,7 persen cukup puas. Jika dibandingkan dengan survei pada Mei 2025, tingkat kepuasan sangat puas saat itu berada di angka 41,1 persen dan cukup puas 53,6 persen.
Respon kurang puas tercatat 4,1 persen, sedangkan 1,3 persen responden menjawab tidak tahu atau tidak menjawab. Firman mengatakan, tingginya respons publik itu bukanlah sesuatu yang mengejutkan.
Sebab, menurutnya, kerja-kerja politik Dedi Mulyadi sudah dilakukan sejak lama, jauh sebelum menjabat sebagai Gubernur Jabar. Dedi juga dinilainya sudah sangat paham peta politik Jabar.
“KDM politisi yang paham path akan kemana dia. Dia sudah menjadi anggota DPRD, lanjut bupati, dan dia juga sudah mau jadi gubernur pada saat 2007. Tapi itu gagal kan. Jadi sebelum Pilgub 2024 dia sudah melakukan konsolidasi dan kerja-kerja politik, sudah dilakukan secara lima tahun ke belakang,” kata Firman. dikutip Selasa (17/2/2026)
Firman pun tidak heran jika tingkat kepuasan publik terhadap Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan jomplang, kalah jauh dibandingkan Dedi.
Adapun Erwan dalam survei ini hanya mendapat 49,7 persen cukup puas, sangat puas 5,6 persen dan tidak puas sama sekali 1,8 persen.
Selain ke wagub, hal itu juga tidak berdampak kepada Pemprov Jawa Barat yang mana para pegawai di lingkungan Gedung Sate belum mampu sepenuhnya memahami keinginan dari KDM.
“Ini merupakan apa yang dia tanam. Tapi itu tidak terjadi ke Wakil Gubernur dan juga kinerja Pemprov. Apa yang jadi ide KDM belum sepenuhnya dipahami Pemprov Jabar,” ucapnya.
Meski demikian, Firman mengkritik ada beberapa program dan janji kampanye yang belum maksimal selama satu tahun kepemimpinan Dedi Mulyadi – Erwan Setiawan. Salah satunya soal perekonomian yang mana belum terlihat membuat adanya penurunan kemiskinan dan problematika lainnya.
Di balik semua itu, Firman menegaskan, ada salah satu yang membuat tingkat kepuasan gubernur meningkat dibandingkan dengan kinerja Erwan dan juga Pemprov Jabar yaitu tagline ‘Bapak Aing’ yang kini banyak diucapkan oleh masyarakat.
“Saya lihat kekuatan dalam konteks leadership bagaimana warga Jabar melihat leadership dan itu lah yang diinginkan warga Jabar. Bahasa mudahnya kan ‘Bapak Aing’ dan itu lah yang di ingat warga Jabar dan itu terasosiasi,” ungkapnya.
“Satu sisi mereka empati tapi pada kesempatan tertentu itu sangat tegas. Pendekatan sangat Egaliter dalam berhadapan dengan publik kebanyakan. Itu yang menurut saya menjadi salah satu kekuatan,” lanjutnya.
Dedi dalam memimpin Jawa Barat juga memiliki pola penyelesaian masalah yang sangat menyentuh masyarakat.
Firman mengatakan, Dedi lebih banyak menginginkan agar warga kecil tidak mendapatkan dampak langsung dari sesuatu persoalan di lingkungan sekitarnya.
“Kalau ada kebijakan yang ada dampak negatif itu dia langsung atasi jangan sampe ke masyarakat kecil itu selalu polanya. Dia seperti ke puncak Bogor terus melihat wilayah bangunan liar. Kemudian berikan kompensasi ke masyarakat kecil itu berdampak jadi sebisa mungkin tidak berdampak ke publik kebanyakan,” pungkasnya.
(Wonk Alit/SRC)




