Jalan Sentra Garam Cirebon Rusak Parah Tak Kunjung Diperbaiki

CIREBON, Suararadarcakrabuana.com – Kabupaten Cirebon dikenal sebagai salah satu lumbung garam nasional dengan hamparan tambak yang luas di wilayah pesisir. Namun, di balik besarnya potensi tersebut, para petambak garam dan nelayan di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, masih harus menghadapi persoalan jalan rusak yang belum terselesaikan selama puluhan tahun.

Jalan utama sepanjang sekitar 7 hingga 8 kilometer yang menjadi akses warga menuju tambak garam dan pesisir laut hingga kini belum pernah dibangun permanen sejak sekitar tahun 1970-an.  Kondisi jalan tersebut memprihatinkan karena berlubang, berbatu, tidak rata, dan kerap tergenang saat musim hujan maupun banjir rob.

Padahal, jalur itu menjadi akses penting bagi ribuan petambak garam dan nelayan untuk mengangkut hasil produksi serta menjalankan aktivitas ekonomi harian.  Akses utama petambak sejak 1970-an Salah seorang petani garam asal Desa Rawaurip, Ismail Marzuki (39), mengatakan jalan tersebut sudah lama menjadi jalur utama masyarakat pesisir.

Baca juga : https://www.suararadarcakrabuana.com/jigus-pastikan-pemkab-cirebon-siapkan-lahan-tpa-baru/

Menurut Ismail, jalan itu digunakan untuk mengangkut hasil garam dari tambak dan menjadi akses nelayan menuju laut. Baca juga: 11 Tahun Rusak, Jalan di Depan STTD Bekasi Dikeluhkan karena Sering Sebabkan Kecelakaan

“Jalan ini sudah ada sejak sekitar tahun 1970-an. Dari dulu sampai sekarang menjadi akses utama untuk mengangkut hasil garam dan aktivitas nelayan ke laut. Tapi sampai hari ini belum pernah diaspal atau dibeton,” ujar Ismail saat ditemui media, Rabu (3/6/2026).

Ismail mengatakan, penanganan yang pernah dilakukan di jalur tersebut hanya sebatas pengerasan jalan sekitar tahun 2011 hingga 2012. Pengerasan itu dilakukan bersamaan dengan proyek pembangunan pagar batu kubus di sepanjang pesisir Kecamatan Pangenan untuk mengantisipasi abrasi.

Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan warga pesisir yang bergantung pada jalur tersebut.

“Kalau musim hujan atau air pasang, jalan semakin sulit dilalui. Padahal jalur ini sangat penting untuk mengangkut hasil produksi garam,” ucapnya.

Baca juga : https://www.suararadarcakrabuana.com/pemkab-cirebon-usulkan-gaji-pppk-ditanggung-pusat/

Abrasi dan banjir rob perburuk kondisi jalan Ismail menuturkan, abrasi dan banjir rob yang masih sering terjadi ikut memperparah kondisi jalan.

Saat hujan atau air laut pasang, jalan menjadi semakin sulit dilalui karena sejumlah titik tergenang dan berlumpur. Kondisi itu berdampak langsung terhadap aktivitas petambak garam yang harus membawa hasil panen dari lahan tambak menuju tempat penampungan maupun pemasaran.

Nelayan juga ikut merasakan dampaknya karena jalan tersebut menjadi akses menuju wilayah pesisir. Menurut warga, kerusakan jalan membuat proses distribusi hasil tambak tidak berjalan maksimal.

Padahal, Desa Rawaurip dan kawasan sekitarnya merupakan bagian dari sentra produksi garam penting di Jawa Barat. Kabupaten Cirebon juga tercatat memiliki hamparan tambak garam yang luas dan menjadi salah satu penopang produksi garam nasional.

Usulan perbaikan diajukan sejak 2020 Sekretaris Desa Rawaurip, Yudi, mengatakan pemerintah desa telah berulang kali mengusulkan perbaikan jalan tersebut. Usulan itu disampaikan kepada pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat sejak 2020.

Baca juga : https://www.suararadarcakrabuana.com/warga-desak-pemkab-cirebon-perbaiki-jalan-babakan-sumber-lor-rusak/

“Sejak tahun 2020 sampai sekarang selalu kami usulkan, baik ke pemerintah kabupaten, provinsi maupun pusat. Kendalanya sampai sekarang status jalan itu belum jelas masuk kewenangan siapa,” jelas Yudi.

Yudi mengatakan, ketidakjelasan status kewenangan menjadi salah satu kendala utama belum terealisasinya pembangunan jalan tersebut. Menurut dia, pemerintah desa tidak bisa menggunakan anggaran desa untuk memperbaiki ruas jalan itu karena bukan termasuk aset atau kewenangan desa.

“Kami ingin jalan ini diperbaiki karena sangat dibutuhkan masyarakat. Tapi desa tidak bisa masuk karena bukan kewenangan kami,” katanya.

Jalan berlumpur dan berbatu Berdasarkan pantauan di lokasi, kondisi jalan penghubung menuju kawasan tambak garam itu terlihat rusak berat. Sejumlah titik badan jalan dipenuhi kubangan air berlumpur. Permukaan jalan berupa tanah bercampur batu kali tampak tidak rata dan berlubang.

Di beberapa bagian, batu-batu berserakan memenuhi badan jalan tanpa lapisan aspal maupun beton. Pengendara yang melintas harus memperlambat laju kendaraan untuk menghindari batu tajam dan genangan air. Di sisi jalan, tampak hamparan semak belukar, area tambak, serta tiang listrik yang mengikuti jalur pesisir.

Baca juga : https://www.suararadarcakrabuana.com/tragedi-truk-kontainer-sruduk-dua-warung-tewaskan-1-orang/

Kondisi tersebut memperlihatkan kontras antara besarnya potensi ekonomi tambak garam dan minimnya infrastruktur pendukung di kawasan tersebut. Warga masih menunggu jalan layak Bagi masyarakat Rawaurip, jalan tersebut bukan hanya jalur penghubung antarlokasi.

Jalan itu menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi ribuan petambak garam dan nelayan yang menggantungkan hidup pada hasil laut serta tambak. Warga berharap pemerintah segera memberi kepastian terkait kewenangan dan pembangunan ruas jalan tersebut.

Mereka menilai akses jalan yang layak sangat dibutuhkan agar distribusi hasil tambak garam lebih lancar dan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir tidak terus terhambat. Namun, setelah puluhan tahun digunakan, harapan warga untuk memiliki jalan permanen masih menunggu kejelasan.

Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul “Ironi Sentra Garam Terbesar Jabar di Cirebon, 50 Tahun Jalan Pengangkut Hasil Tambak Tak Diaspal”.

Wonk Alit/SRC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!