JAKARTA, Suararadarcakrabuana.com – Harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia kerap menjadi perhatian publik. Ketika harga minyak dunia melonjak, muncul pertanyaan apakah harga BBM di dalam negeri akan ikut naik.
Sebaliknya, saat harga minyak global turun, masyarakat juga berharap harga BBM, terutama BBM nonsubsidi seperti Pertamax, ikut turun. Namun, harga BBM di Indonesia tidak ditentukan oleh satu faktor saja.
Ada sejumlah komponen yang saling berkaitan, mulai dari harga minyak mentah dunia, harga produk BBM di pasar internasional, nilai tukar rupiah, biaya distribusi, hingga kebijakan pemerintah. Perbedaan mekanisme penetapan harga juga membuat BBM subsidi dan nonsubsidi memiliki respons yang berbeda terhadap perubahan kondisi global.
Harga minyak dunia jadi faktor utama Faktor pertama yang memengaruhi harga BBM di Indonesia adalah harga minyak mentah dunia. Sebagai negara yang telah menjadi pengimpor bersih minyak sejak 2004,
Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah maupun BBM untuk memenuhi kebutuhan energi domestik. Karena itu, perubahan harga minyak global akan memengaruhi biaya penyediaan BBM di dalam negeri.
Harga minyak dunia sendiri dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti keseimbangan pasokan dan permintaan global, tingkat produksi negara-negara penghasil minyak, kondisi geopolitik, hingga stok minyak dunia.
Ketika harga minyak dunia naik, biaya pengadaan minyak dan produk BBM juga ikut meningkat. Sebaliknya, ketika harga minyak dunia turun, biaya penyediaan BBM berpotensi berkurang. Kenaikan harga minyak dunia sempat menjadi sorotan pada Juni 2026 ketika konflik geopolitik di Timur Tengah memicu lonjakan harga energi.

Pertamina menaikkan harga Pertamax dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter dan Pertamax Green dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter. Baca juga: Bank Dunia Pangkas Proyeksi Ekonomi Myanmar, Harga BBM dan Perang Sipil Jadi Beban Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sejak konflik Iran pecah dan disebut berkaitan dengan meningkatnya biaya energi serta tekanan terhadap anggaran subsidi.
Bukan harga minyak mentah, acuan utamanya justru MOPS Meski harga minyak mentah dunia penting, harga BBM nonsubsidi di Indonesia sebenarnya tidak dihitung secara langsung berdasarkan harga minyak mentah.
Acuan utama yang digunakan adalah Mean of Platts Singapore (MOPS) atau rata-rata harga produk BBM di pasar Singapura. MOPS adalah harga referensi untuk berbagai produk BBM seperti bensin dan solar yang diperdagangkan di kawasan Asia Pasifik.
Pemerintah menjelaskan, harga patokan BBM dihitung berdasarkan rata-rata MOPS dalam periode tertentu, ditambah biaya distribusi dan margin. Mekanisme ini juga digunakan dalam perhitungan subsidi energi.
Artinya, ketika harga minyak mentah naik tetapi harga produk BBM di Singapura tidak berubah signifikan, kenaikan harga BBM di Indonesia bisa lebih terbatas. Sebaliknya, harga BBM bisa naik meski harga minyak mentah sedang turun apabila harga produk BBM di pasar regional justru meningkat.
VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga Sigit Setiawan mengatakan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi memang mengacu pada formula yang mempertimbangkan harga MOPS.
ia menjelaskan harga Pertamax pada dasarnya mengikuti formula keekonomian yang dipengaruhi harga referensi internasional tersebut. Kurs rupiah turut menentukan Selain harga minyak dan MOPS, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menjadi faktor penting lainnya. Sebagian besar transaksi minyak dan BBM internasional menggunakan mata uang dollar AS.
Karena itu, ketika rupiah melemah, biaya impor minyak dan BBM akan meningkat, meskipun harga minyak dunia tidak berubah. Kementerian ESDM menyebutkan, pelemahan nilai tukar rupiah, bersamaan dengan kenaikan harga minyak dan produk BBM dunia, akan meningkatkan harga patokan BBM.
Harga BBM nonsubsidi dipengaruhi oleh sejumlah faktor selain harga minyak dunia, yakni nilai tukar rupiah, biaya pengolahan, distribusi, serta kondisi geopolitik global.
Tekanan kurs dan harga minyak yang terjadi bersamaan akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap harga BBM. Ada biaya distribusi dan pajak Indonesia merupakan negara kepulauan dengan ribuan pulau yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.
Kondisi geografis tersebut membuat distribusi BBM menjadi salah satu komponen biaya yang tidak kecil. Selain biaya distribusi, terdapat pula komponen margin, biaya operasional, penyimpanan, dan pajak yang ikut memengaruhi harga jual BBM di SPBU.
Dalam penjelasan mengenai formula harga BBM, pemerintah menyebut harga patokan dihitung dari rata-rata MOPS ditambah biaya distribusi dan margin. Artinya, meskipun harga minyak dunia turun, harga jual BBM tidak serta-merta turun apabila komponen biaya lainnya masih tinggi.

Berbagai analisis juga menunjukkan, harga BBM di Indonesia dipengaruhi oleh sejumlah faktor sekaligus, yakni harga minyak dunia, MOPS, kurs rupiah, pajak, subsidi, serta biaya distribusi. Lihat Foto Seorang pengemudi ojek online mengisi BBM non-subsidi jenis Pertamax di SPBU Sawahan, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Rabu (10/06/2026).
Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp 17.000 per liter mulai dirasakan para pekerja yang mengandalkan kendaraan sebagai sumber penghasilan. Harga minyak dunia turun, apakah harga Pertamax juga akan turun? Pertanyaan ini sering muncul ketika harga minyak dunia melemah.
Secara prinsip, pemerintah memastikan harga BBM nonsubsidi akan mengikuti pergerakan harga minyak dunia. Namun, penyesuaian harga di SPBU tidak selalu terjadi secara langsung pada saat yang sama karena ada sejumlah komponen yang harus diperhitungkan dalam formula harga.
Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia mengatakan, ketika harga minyak dunia turun, harga BBM nonsubsidi pada akhirnya juga akan mengalami penyesuaian ke bawah.
“Nah apakah bisa turun? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM non-subsidi juga akan turun. Begitu juga sebaliknya, ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan, mau tidak mau, tidak terhindarkan harga BBM non-subsidi harus menyesuaikan dengan harga keekonomiannya,” ujar Dwi di Kantor Badan Komunikasi Kepresidenan (Bakom), Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Menurut Dwi, harga BBM nonsubsidi, baik yang dijual oleh Pertamina maupun SPBU swasta, mengikuti mekanisme pasar. Dia menegaskan, berapa pun harga minyak mentah dunia, harga BBM nonsubsidi pada akhirnya harus menyesuaikan dengan harga keekonomian.
“Namun balik lagi, kita tahu kondisi saat ini kenaikan harga BBM non-subsidi ini memang sudah berlangsung. Kalau kita bicara negara-negara kawasan di tetangga sudah jauh lebih dulu mengalami kenaikan, penyesuaian,” kata dia.
Meski demikian, penurunan harga minyak dunia tidak serta-merta membuat harga BBM nonsubsidi langsung turun pada saat yang sama. Hal itu karena harga BBM nonsubsidi tidak menggunakan harga minyak harian atau real time.
Formula yang dipakai mengacu pada rata-rata harga produk BBM di pasar internasional, terutama MOPS, yang dihitung dalam periode tertentu. Selain itu, terdapat komponen lain yang ikut diperhitungkan, yakni nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, biaya distribusi dan logistik, margin usaha, serta pajak.
Karena itu, ada jeda waktu antara perubahan harga minyak dunia dengan penyesuaian harga BBM di dalam negeri. Fenomena ini pernah menjadi perhatian ketika harga minyak global mengalami penurunan pada 2025.

Saat itu, Kementerian ESDM mencatat Indonesian Crude Price (ICP) April 2025 turun menjadi 65,29 dollar AS per barel dari 71,11 dollar AS per barrel pada Maret 2025. Penurunan tersebut sejalan dengan melemahnya harga minyak global akibat perang tarif dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.
Meski demikian, perubahan harga BBM nonsubsidi tetap harus memperhatikan berbagai komponen lain dalam formula penetapan harga. Karena itu, penurunan harga minyak dunia tidak selalu langsung tercermin pada harga BBM di SPBU.
Dwi mengungkapkan, pemerintah sebelumnya sempat berupaya menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat di tengah gejolak harga energi global. Hal itu membuat Pertamax sempat menjadi satu-satunya BBM nonsubsidi yang tidak mengalami kenaikan harga, sebelum akhirnya naik menjadi Rp 16.250 per liter.
“Tapi seiring berjalannya waktu, fluktuasi harga yang semakin dinamis, ini para pelaku usaha mau tidak mau harus menyesuaikan dengan harga keekonomian. Seperti itu. Jadi kalau ditanya akan turun enggak harga minyak dunia turun, pasti akan ada penyesuaian juga untuk penurunan harga BBM non-subsidi,” imbuh Dwi.
Mengapa harga BBM subsidi bisa berbeda? Perbedaan paling mendasar antara BBM subsidi dan nonsubsidi terletak pada campur tangan pemerintah. Harga BBM subsidi seperti Pertalite tidak selalu mengikuti pergerakan harga minyak dunia maupun kurs rupiah karena pemerintah memberikan subsidi dan mempertimbangkan kondisi fiskal negara.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, meskipun rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) pada April 2026 mencapai 117,31 dollar AS per barrel, harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan. Ia menjelaskan, rata-rata ICP sejak Januari 2026 masih berada di kisaran 80 hingga 81 dollar AS per barrel.
“Rata-rata ICP kita sekarang itu kurang lebih sekitar 80-81 dollar AS dari bulan Januari sampai sekarang. Jadi, belum sampai 100 dollar AS,” kata Bahlil.
Pemerintah juga pernah menjelaskan, subsidi BBM dihitung berdasarkan selisih antara harga jual eceran dengan harga patokan yang dihitung dari MOPS, biaya distribusi, dan margin. Dengan mekanisme tersebut, kenaikan biaya penyediaan BBM tidak selalu langsung diteruskan kepada konsumen.
Dengan demikian, harga BBM di Indonesia merupakan hasil interaksi berbagai faktor, mulai dari harga minyak dunia, harga produk BBM di pasar Singapura, nilai tukar rupiah, biaya distribusi, hingga kebijakan subsidi pemerintah. Karena banyaknya variabel yang memengaruhi, pergerakan harga BBM di SPBU tidak selalu sejalan dan tidak selalu berlangsung secepat perubahan harga minyak di pasar global.
Wonk Alit/SRC




