Cirebon Kota. Suararadarcakrabuana.com – Membangun budaya membaca pada anak tidak harus selalu dilakukan di ruang kelas atau perpustakaan formal. Lingkungan tempat anak bermain dan berinteraksi sehari-hari juga dapat menjadi ruang belajar yang menyenangkan.
Semangat tersebut terlihat dalam kegiatan literasi yang berlangsung di Teras Ngabaca, RT 05 Kelurahan Kalijaga, Kota Cirebon. Anak-anak mengikuti kegiatan membaca dan mendengarkan dongeng dalam suasana yang santai dan penuh keceriaan.
Kegiatan itu turut dihadiri Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati bersama jajaran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Cirebon. Kehadiran Wakil Wali Kota tidak sekadar menghadiri kegiatan, tetapi juga berinteraksi langsung dengan anak-anak yang mengikuti agenda literasi.
Menurut Farida, pendekatan yang menyenangkan menjadi salah satu kunci untuk menumbuhkan ketertarikan anak terhadap kegiatan membaca. Anak perlu mendapatkan pengalaman membaca bukan aktivitas yang membosankan, melainkan kegiatan yang dapat membuka pengetahuan sekaligus mengembangkan imajinasi.
“Alhamdulillah saya berkesempatan bertemu dengan anak-anak di RT 05 Kelurahan Kalijaga. Saya bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan hadir untuk memberikan pelayanan sekaligus sosialisasi tentang literasi,” ujarnya.
Ia menilai perkembangan teknologi juga membuat konsep literasi semakin luas. Anak-anak saat ini tidak hanya mendapatkan informasi melalui buku, tetapi juga melalui berbagai media digital.
Karena itu, penguatan literasi menurutnya perlu berjalan beriringan dengan perkembangan zaman. Meski demikian, kebiasaan membaca tetap harus ditanamkan sejak dini agar anak memiliki rasa ingin tahu dan kemampuan menyerap informasi dengan baik.
“Literasi memang tidak hanya dari buku saja. Sekarang sudah masuk ke era digitalisasi, sehingga anak-anak juga perlu dikenalkan dengan berbagai bentuk literasi. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana minat membaca dan rasa ingin tahu mereka terus tumbuh,” katanya.
Farida juga memberikan apresiasi terhadap keberadaan Teras Ngabaca. Menurutnya, ruang baca yang tumbuh dari lingkungan masyarakat menunjukkan adanya kepedulian bersama terhadap pendidikan dan perkembangan anak.
Ia berharap ruang-ruang literasi serupa dapat terus berkembang sehingga anak-anak memiliki lebih banyak pilihan tempat untuk belajar, membaca, berinteraksi, dan mengembangkan kreativitas.
“Saya memberikan apresiasi dan berharap kegiatan pembinaan seperti ini bisa terus ditingkatkan dan memberikan manfaat yang lebih luas,” ungkapnya.
Bagi Farida, anak-anak yang mengikuti kegiatan tersebut merupakan bagian dari generasi penerus Kota Cirebon yang harus dipersiapkan sejak sekarang. Salah satu fondasinya adalah membangun kebiasaan belajar dan membaca melalui kegiatan yang sesuai dengan dunia anak.
“Saya sangat senang bisa bertemu dengan anak-anak yang membanggakan. Mereka adalah generasi emas yang sedang kita siapkan, salah satunya melalui budaya membaca. Semoga apa yang dilakukan hari ini bisa menjadi kebiasaan baik bagi mereka,” tuturnya.
Upaya tersebut juga akan diperkuat melalui program FARIDA atau Festival Anak Riang dalam Dongeng Kemerdekaan. Program ini dihadirkan untuk menghadirkan suasana kemerdekaan yang lebih dekat dengan anak-anak, salah satunya melalui kegiatan pendidikan dan literasi.
“Bismillah, mohon doanya. Saya punya program FARIDA, Festival Anak Riang dalam Dongeng Kemerdekaan. Merdeka itu di segala bidang ya, termasuk dalam pendidikan,” jelasnya.
Program tersebut diharapkan menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar dengan cara yang lebih kreatif. Dongeng, membaca, serta berbagai kegiatan edukatif dapat menjadi media untuk menumbuhkan kecintaan terhadap buku sekaligus menggali bakat dan minat anak.
Farida menegaskan, upaya membangun budaya literasi tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Pemerintah, perangkat daerah, komunitas, keluarga, dan masyarakat perlu bergerak bersama menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
“Kita ingin hadir bersama-sama, bagaimana menumbuhkan rasa suka dan bakat minat anak dalam membaca buku. Jadi anak-anak bisa belajar dengan cara yang menyenangkan, bisa mengenal cerita, berimajinasi, dan tetap merasa bahagia,” pungkasnya
Wonk Alit/SRC




