Wilayah Jawa Sampai Papua Rawan Diterjang Banjir Dan Longsor

Jakarta. Suararadarcakrabuana.com – Wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi bagian selatan dan tenggara, Maluku hingga Papua bagian selatan masuk dalam zona berpotensi mengalami hujan intens yang memicu longsor dan banjir.

Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan Universitas Gajah Mada, Dwikorita Karnawati mengatakan bencana di Sumatra menjadi penanda hal serupa bisa terjadi di wilayah yang memiliki karakter bentang alam yang mirip.

“Wilayah-wilayah tersebut seharusnya berada dalam kondisi siaga terhadap cuaca ekstrem sebagaimana yang baru saja terjadi di Sumatra,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kondisi atmosfer dan intensitas hujan saat ini dapat memicu kejadian ekstrem di wilayah-wilayah rawan.

Baca juga ; https://www.suararadarcakrabuana.com/dampak-longsor-akses-jalan-utama-pendidikan-dan-ekonomi/

Campuran lumpur, material kayu, batu dan sedimen dapat melaju dengan kecepatan tinggi ketika diguyur hujan di kawasan pegunungan.

Hanya dalam hitungan detik debris dapat merusak permukiman dan fasilitasi umum seperti yang terjadi di Sumatra.

“Aliran debris seperti ini sangat destruktif dan menuntut respons segera dari warga yang berada di zona rentan,” katanya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya identifikasi ulang zona merah dan pembatasan aktivitas manusia selama periode peringatan dini dan menyiapkan jalur evakuasi sebagai langkah mitigasi.

Dwikorita menegaskan bahwa mitigasi tidak boleh dianggap upaya sesaat, tetapi sebagai strategi jangka panjang yang bertumpu pada perlindungan lingkungan.

Baca juga ; https://www.suararadarcakrabuana.com/potret-memilukan-aceh-tamiang-90-terendam-banjir/

Dosen dan peneliti Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Hatma Suryatmojo mengatakan hutan memiliki kemampuan besar untuk menahan air hujan.

Menurutnya, tutupan hutan yang berkurang menyebabkan air mengalir tak terbendung hingga terjadi banjir.

“Neraca airnya pasti berubah dan debit puncaknya meningkat drastis,” kata Hatma.

Bencana banjir bandang disertai longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November 2025 telah menewaskan 914 orang hingga 6 Desember 2025, dengan 389 orang masih dilaporkan hilang, sementara ribuan lainnya luka-luka dan mengungsi.

Baca juga ; https://www.suararadarcakrabuana.com/deretan-sejarah-kelam-banjir-bandang-sumut-sumbar-dan-aceh/

Bencana ini dipicu oleh hujan ekstrem akibat siklon tropis dan faktor lingkungan seperti kerusakan hutan, memengaruhi 3,3 juta jiwa di 50 kabupaten/kota, merusak puluhan ribu rumah, serta mengganggu infrastruktur dasar seperti listrik dan komunikasi.

Upaya pencarian dan evakuasi oleh BNPB serta sukarelawan terus berlangsung di tengah tantangan cuaca buruk, dengan penurunan jumlah hilang karena sebagian ditemukan selamat.

 RED

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!