MAJALENGKA, Suararadarcakrabuana.com – Pemugaran tugu perbatasan antara Kabupaten Majalengka dengan Kabupaten Cirebon tepatnya di desa Panjalin Kidul, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak.
Kepala Desa Panjalin Kidul, Kecamatan Sumberjaya, Dudung Abdullah Yasin mengungkapkan jika setiap kepemimpinan itu ingin memberikan nuansa yang baru dan berbeda.
“Itu sangat lumrah. Seperti pembangunan atau pemugaran tugu perbatasan yang berada di blok Karanganyar ini saat ini prosesnya sudah dinyatakan 100 persen.”
“Pembangunan baru tugu perbatasan ini jelas memberikan nuansa yang baru bagi wajah kabupaten Majalengka dibagian timur tepatnya di jalur tengah Nasional (Cirebon – Bandung),” kata Dudung dikediamannya, Selasa 13 Januari 2026 kemarin.
Ketua Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kabupaten Majalengka ini mengaku sebelum pemugaran atau bangunan lama itu banyak kejadian yang membahayakan.
“Dulu seringkali lisplang dari atas dan genting pada jatuh. Karena tugu perbatasan lama itu ada atapnya yang menggunakan bahan bahan berat. Tentu sangat membahayakan pengguna jalan,” terangnya.
Dudung mengatakan Atas dasar pihaknya berkomunikasi dengan bupati Majalengka Drs H Eman Suherman MM untuk menerima masukan dan laporan dari masyarakat.
“Alhamdulillah pak bupati menilai bahwa tugu perbatasan Majalengka – Cirebon itu perlu di pugar. Dan sekarang sudah 100 persen selesai,” ujarnya.
Arsitektur dari tugu perbatasan tersebut bernuansa simbol dan ciri khas kabupaten Majalengka. Dudung menerangkan terdapat dua gedong gincu dibagian atas tugu.
Sehingga konsep Gedong Gincu ini bukan hanya di tugu perbatasan antara Cirebon-Majalengka saja melainkan sama seperti di bunderan Cigasong. Artinya ini menghadirkan nuansa serta ciri khas produk asli Majalengka yakni buah gedong gincu.
Adapun tugu perbatasan yang masing-masing setiap tugunya terdapat Kujang sebagai jatidiri orang Sunda dan Jawa Barat.
“Kujang itu berarti bahwa Majalengka masih bagian dari suku Sunda yang kaitannya erat dalam perjalanan sejarahnya dengan Pajajaran. Dan ini adalah simbol identitas,” pungkas Dudung.
Wonk Alit




