Jakarta. Suararadarcakrabuana.com – Kementerian Keuangan mencatat bahwa realisasi APBN 2026 hingga akhir Januari 2026 mengalami defisit Rp54,6 T atau setara 0,21% terhadap PDB (vs. Januari 2025: defisit 0,09% terhadap PDB; target APBN 2026: defisit 2,68% terhadap PDB), dengan defisit keseimbangan primer sebesar Rp4,2 T.
Hasil ini dipengaruhi oleh lonjakan belanja negara sebesar +25,7% YoY menjadi Rp227,3 T per akhir Januari 2026, meski pendapatan negara naik +9,5% YoY ke level Rp172,7 T seiring kenaikan penerimaan pajak sebesar +30,7% YoY. Berikut rinciannya:
- Pendapatan Negara Naik +9,5% YoY, Didorong Kenaikan Penerimaan Pajak
Kenaikan pendapatan negara hingga akhir Januari 2026 utamanya didorong penerimaan pajak, yang secara neto naik +30,7% YoY seiring peningkatan pajak bruto +7% YoY dan kontraksi restitusi -23% YoY.
Pertumbuhan pajak bruto utamanya didukung oleh PPN dan PPnBM (+7,7% YoY) sebagai kontributor terbesar penerimaan pajak, sementara penurunan restitusi utamanya berasal dari sektor perdagangan.
- Belanja Negara Naik +25,7% YoY, Nominal Belanja Tertinggi Setidaknya sejak 2019
Kementerian Keuangan menyebut bahwa akselerasi belanja pada Januari 2026 ditujukan untuk mendukung program prioritas, menjaga daya beli, dan mendorong pertumbuhan ekonomi selama 1Q26.
Peningkatan terutama pada belanja kementerian/lembaga, didorong oleh realisasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis yang mencapai Rp19,5 T (vs. Januari 2025: Rp45,2 M).
Sebelumnya dalam Indonesian Economic Outlook 2026 pada pertengahan Februari 2026, pemerintah memperkirakan belanja pemerintah mencapai Rp809 T pada 1Q26, mengimplikasikan realisasi belanja Januari 2026 setara ~28% estimasi tersebut.
Sebagai catatan, nominal belanja pada Januari 2026 merupakan yang tertinggi dibandingkan Januari pada tahun–tahun sebelumnya, setidaknya sejak 2019 [lihat tabel di bawah].
.png)
Key Takeaway
Percepatan belanja ini sejalan dengan langkah optimalisasi anggaran, dimana pemerintah mendorong realisasi belanja secara merata sepanjang tahun dan tidak menumpuk di akhir tahun.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memproyeksikan percepatan belanja pada awal tahun ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi ke kisaran +5,5–6% YoY pada 1Q26 (vs. 4Q25: +5,39% YoY).
Di sisi lain, realisasi APBN pada Januari 2026 kembali meng–highlight risiko pelebaran defisit fiskal dari yang ditargetkan.
Meski demikian, Direktur Jenderal di Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menegaskan bahwa target pertumbuhan pemerintah pada tahun ini akan tetap mempertahankan defisit fiskal dalam batas 3% terhadap PDB.
BMRI adalah Laba Bersih Bank–Only +16% YoY pada Januari 2026
- $BMRI ;Bank Mandiri mencatat laba bersih bank–only sebesar Rp4,7 T pada Januari 2026 (+16% YoY, -37% MoM), setara 8,2% estimasi konsolidasi 2026F konsensus (vs. 1M25: 7,1% realisasi konsolidasi 2025). Pertumbuhan laba bersih utamanya didorong oleh Net Interest Income yang naik +10% YoY — seiring pertumbuhan kredit +16% YoY — serta normalisasi pertumbuhan opex yang hanya naik +5% YoY dan penurunan beban provisi -22% YoY.
- $BUKA ; Pengendali saham Bukalapak sekaligus anak usaha Elang Mahkota Teknologi ($EMTK), PT Kreatif Media Karya, membeli ~4,5 miliar saham BUKA dengan harga rata–rata Rp150/lembar atau senilai total ~Rp674,3 M pada 19–20 Februari 2026. Setelah transaksi ini, porsi kepemilikan langsung PT Kreatif Media Karya di BUKA naik dari 40,55% menjadi 44,91%.
- $SCMA ; Pengendali saham Surya Citra Media, Elang Mahkota Teknologi ($EMTK), membeli 300 juta saham SCMA dengan harga rata–rata Rp320/lembar atau senilai total Rp96 M pada 19 Februari 2026. Setelah Transaksi , porsi kepemilikan langsung EMTK di SCMA naik dari 74,02% menjadi 74,42%.
- $DOID ; BUMA Internasional Grup melalui anak usahanya, PT Bukit Makmur Mandiri Utama, mendapatkan kontrak jasa pertambangan jangka panjang dengan nilai yang tidak disebutkan dari anak usaha Adaro Andalan Indonesia ($AADI), PT Adaro Indonesia, untuk area tambang Tutupan Selatan di Kalimantan Selatan. Kontrak tersebut akan berlangsung pada 1 April 2026–31 Desember 2030, dengan total volume pengupasan lapisan tanah penutup diperkirakan ~239 juta bcm dan perkiraan produksi 44 juta ton batu bara.
- $BREN ; Barito Renewables Energy melalui anak usahanya, Star Energy Geothermal, menandatangani sejumlah perjanjian dan kerangka kerja sama strategis dengan perusahaan teknologi energi global, SLB (NYSE: SLB) untuk mendukung proyek pengembangan geotermal serta penerapan teknologi di masa depan di Indonesia maupun di luar negeri. Kerja sama tersebut mencakup desain dan perencanaan pengembangan lapangan pada proyek pengembangan geotermal Sekincau di Indonesia, serta kerangka kerja sama untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan merencanakan peluang geotermal di masa depan termasuk di kawasan Amerika Utara.
- $MEGA ; Bank Mega berencana membagikan saham bonus dengan rasio 1:1 dari kapitalisasi agio saham senilai ~Rp5,9 T per 31 Desember 2025. Cum date di pasar reguler dan negosiasi direncanakan pada 9 April 2026, dengan pembagian pada 30 April 2026. Rencana ini akan dibahas dalam RUPS pada 31 Maret 2026.
- $BAJA ; Saranacentral Bajatama berencana menggelar rights issue hingga 1 miliar saham baru yang ditujukan untuk menyelesaikan seluruh pokok utang dan bunga senilai Rp445 M dari pihak afiliasi perseroan, PT Sarana Steel. Harga pelaksanaan dan rasio belum diumumkan. Pengendali BAJA, Ibnu Susanto, dan PT Sarana Steel akan melaksanakan haknya serta menjadi pembeli siaga. Rencana ini akan dibahas dalam RUPSLB pada 31 Maret 2026.
Sumber Kemenkeu
( RS S,H/ SRC )




