BANDUNG – Era operasional bus di Terminal Cicaeum, Kota Bandung resmi berakhir.
Mulai Selasa (26/5/2026), seluruh aktivitas pelayanan bus Angkutan Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP) di terminal legendaris kawasan Bandung ditutup dan dialihkan sepenuhnya ke Terminal Leuwipanjang.
Langkah penghentian operasional ini diambil sebagai bagian dari rencana besar transformasi transportasi publik.
Kawasan Terminal Cicaeun nantinya akan dialihfungsikan menjadi depo utama Bus Rapid Transit (BRT), sebuah proyek strategis bentukan pemerintah pusat demi mengurai kemacetan di Bandung Raya.
Kepala Terminal Cicaeum, Asep Supriadi mengonfirmasi bahwa penutupan dan pengosongan jalur bus ini dilakukan setelah pihaknya menerima serta menindaklanjuti surat edaran resmi dari pemerintah pusat.
Baca juga ; https://www.suararadarcakrabuana.com/operasi-patuh-2026-mulai-8-juni-target-pelanggaran-pelat-nomor/
“Kemarin itu hasil rapat, sudah ada surat edaran dan ada tindaklanjutnya untuk seluruh bus AKAP maupun AKDP dialihkan ke Terminal Leuwipanjang,” ujar Asep saat dihubungi, (28/5/2026).

Dampak dari penutupan ini langsung terlihat pada grafik pergerakan angkutan umum di Kota Bandung. Arus keberangkatan dan kedatangan bus yang biasanya memadati wilayah Cicaheum kini telah bergeser ke bagian selatan kota.
“Untuk jumlah armada yang dialihkan dari Terminal Cicaeum ke Terminal Leuwipanjang per setengah hari ini sudah kisaran antara 85 armada sampai 100 armada,” kata Asep memaparkan data migrasi kendaraan.
Bahkan, armada bus untuk rute-rute gemuk seperti tujuan Kabupaten Garut dipastikan sudah steril dan tidak lagi beroperasi di area dalam terminal.
Jika masih ada bus yang nekat masuk, petugas di lapangan langsung mengarahkan sopir untuk langsung keluar menuju Leuwipanjang.
Baca juga ;
Aktivitas Terbatas di Masa Transisi
Kendati layanan bus reguler telah ditutup total, suasana di Terminal Cicaeum belum sepenuhnya sepi. Pihak pengelola mengakui masih ada aktivitas terbatas dari sejumlah penumpang yang kedapatan telanjur datang ke lokasi karena belum mengetahui adanya perubahan kebijakan penutupan.
Untuk mengantisipasi penumpukan warga yang kebingungan, pengelola terminal terus mengoptimalkan pengeras suara di sudut-sudut peron guna memberikan edukasi dan arah rute baru.
Di sisi lain, kelonggaran operasi di masa transisi ini hanya diberikan kepada angkutan umum jenis kendaraan kecil.
“Kalau untuk armada yang ke daerah Garut kebetulan di sini sudah enggak ada untuk armada busnya, kecuali elf (yang masih dalam proses penyesuaian),” tutur Asep memungkasi penjelasannya.




