Bandung Suararadarcakrabuana.com – Toni Permana, warga Padalarang, Kabupaten Bandung Barat curhat soal usahanya membuat paving block dari sampah tak didukung pemerintah.
Curhatan Toni itu viral di media sosial. Dalam video, Toni marah dan kecewa karena usaha paving block yang ia rintis sejak tahun 2017 itu tidak mendapat perhatian dari pemerintah.
“Dari 2017 saya punya inovasi mengubah sampah plastik menjadi paving block. Dulu saya manual, sekarang saya punya mesin, saya merakit sendiri,” kata Toni dalam videonya yang diunggahnya.
Toni mengatakan usaha paving block miliknya sudah lolos berbagai uji dan mendapat predikat bank sampah terbaik.
“Percuma saya mendapat predikat bank sampah terbaik di Indonesia, tapi tidak ada perhatian dari pemerintah,” ucap Toni.
Toni merupakan lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) itu dulunya merupakan seorang pemilik bengkel las.
Sejak 2017, tempat usahanya beralih menjadi bank sampah dan pengolahan sampah plastik menjadi paving block. Ia merakit mesin dan alat penyaring asap untuk pembuatan paving block dari sampah plastik itu.
Terkait keluhan Toni ini, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengundang Toni ke tempatnya. Keduanya lalu berbincang santai.
Dedi bertanya soal pasar dari paving block yang dibuat Toni. Toni menjawab pasar paving block ini banyak, namun terdapat beberapa kendala yang dihadapi.
“Yang pertama, dari mesin belum bisa produksi massal, karena skala UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Terus yang kedua tuh saya takut dengan regulasi kalau massal begitu,” jawab Toni.
Dedi kembali bertanya, regulasi apa yang Toni takutkan. Toni menyebut khawatir karena melihat pemberitaan.
Dedi mengatakan tidak perlu takut melakukan hal yang produktif.
“Bapak enggak takut, di media sosial juga marah-marah. Kenapa takut melakukan sesuatu yang memiliki produktivitas dibanding marah-marah di media sosial,” ujar Dedi.
Dedi kemudian menanyakan harga paving block per meter. Toni mengungkapkan paving block yang dibuatnya dijual dengan harga Rp 200 ribu per meter. Namun, Toni menyebut dalam sehari hanya mampu membuat 2 meter.
“Ngejual paving per meter berapa?” tanya Dedi.
“Itu 200 ribu per meter,” jawab Toni.
Dedi bertanya tentang kelebihan paving block buatan Toni dengan produk biasa. Toni menyebut produk buatannya lebih awet dan kekokohannya hampir setara dengan paving block pada umumnya.
Dedi kemudian melihat contoh produk paving block buatan Toni. Ia pun menanyakan harga mesin pembuat produk itu.
“Kalau beli alat harganya berapa? Saya kepengin bapak mandiri,” tanya Dedi.
“Waktu itu saya bikin sendiri, kalau harga mesin liat-liat di browsing itu ratusan juta, cuma kalau punya kita mah di angka Rp 50 juta,” Toni menjawab.
Dedi kemudian memesan paving block itu untuk 250 meter.
“Saya pesan untuk 250 meter,” kata Dedi dalam keterangannya dikutip, Kamis (9/10.
Menanggapi permintaan tersebut, Toni mengatakan belum memiliki mesin yang dapat memproduksi massal. Sementara itu, Dedi menjawab akan membayar terlebih dahulu pesanannya senilai Rp 50 juta.
“Saya kan beli nih, saya kasih ke Bapak Rp 50 juta, saya kasih perjanjian, tapi bapak harus mengirimkan barang ke saya ini. Jadi saya jual-beli, bukan bantu bapak untuk beli mesin, kemudian bapak cetak ini,” kata Dedi.
Dedi menyebut akan menggunakan paving itu untuk jalan di sawah. Jika dirinya sudah berhasil menggunakan paving block itu, maka ia akan membuat program desa-desa untuk menggunakan paving block buatan Toni.
“Kalau di tempat saya nanti Bapak sudah berhasil, saya nanti mau bikin program desa-desa menggunakan paving block buatan Bapak,” Pungkas Dedi.
Redaksi ; RS,SH




