Bandung. SUARARADARCAKRABUANA.COM – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengklaim ada kekuatan yang mem-framing atau membingkai dia.
Framing menurut Cambridge Dictionary adalah tindakan membuat seseorang tampak bersalah karena suatu kejahatan, padahal dia tidak bersalah. Caranya ialah dengan memberikan informasi yang tidak benar.
“Saya dalam setiap waktu ada kekuatan yang terus mem-framing saya, bahwa saya melakukan pencitraan. Apa yang dilakukan saya hanyalah pencitraan,” kata Dedi dalam video yang diunggahnya di akun Instagram miliknya. Dedi menyebut framing itu dilakukan oleh media dan buzzer atau pendengung.
Baca juga ; https://www.suararadarcakrabuana.com/respon-dedi-mulyadi-terkait-fraksi-pdi-p-walk-out/
“Pertanyaannya, buzzer dan media mem-framing saya itu dibayar sama siapa? Bayarnya pakai uang pribadi atau uang negara?” tanya Dedi.
Dedi mengatakan hingga kini tidak menggunakan uang negara untuk kegiatan sosial kehidupannya. Dia mengklaim hanya menggunakan kanal miliknya yang diminati oleh masyarakat.
“Tapi orang lain bisa jadi menggunakan kekuatan media, menggunakan kekuatan influencer, menggunakan kekuatan buzzer dengan dibiayai oleh uang negara agar dia mengalami peningkatan persepsi publik sehingga kerjanya bisa dianggap baik,” ujarnya.
Kemudian, Dedi kembali menegaskan bahwa dia setiap hari bermedia sosial tanpa menggunakan uang negara.
“Yang lain berusaha membangun citra dengan menggunakan uang negara.”
Dedi menyebut tindakan pencitraan dengan memanfaatkan uang negara itu bisa dilihat dari jumlah anggaran.
“Gimana cara melihatnya? Lihat saja anggaran Dinas Informasi dan Komunikasinya. Berapa di setiap kabupaten/kota? Berapa di setiap provinsi?
“Bisa dilihat bahwa yang paling gede pasti menggunakan anggaran itu untuk membangun citra dirinya. Itulah hal yang mesti kita pahami.”
Baca juga ; https://www.suararadarcakrabuana.com/polda-jabar-jalin-sinergitas-wujudkan-lingkungan-kamtibmas/
Sementara itu, beberapa waktu lalu pakar komunikasi politik Universitas Indonesia Effy Z. Rusfian mengungkapkan pendapatnya mengenai tindakan Dedi.
Menurut Effy, dia sudah memperhatikan perilaku Dedi, termasuk sepak terjangnya lewat media-media sosial.
“Di situ kita melihat, menurut pendapat saya, Kang Dedi ini tidak melakukan yang namanya disebut pencitraan,” kata Effy Z Rusfian dalam tayangan Youtube TV One, Rabu, (9/4/2025).
Effy menyatakan yang dilakukan Dedi adalah political branding yang dibentuk melalui interaksi sosial antara KDM dan masyarakat.
“Yang dilakukan (KDM) adalah political branding lewat political impression management, itu dibentuk dengan interaksi-interaksi sosial,” kata Effy.
Baca juga ; https://www.suararadarcakrabuana.com/dedi-mulyadi-bertemu-kedubes-bahas-kampung-inggris/
KDM menjelaskan bahwa dalam hal gebrakan memang dibutuhkan untuk menyejahterahkan masyarakat jawa barat.
“Yang diperlukan adalah sebenarnya monitoring, evaluasi, karena kalau kita membiarkan sesuatu perlakuan atau suatu tindakan dari pejabat publik yang tidak ada evaluasinya, apakah kita mau seperti kejadian yang berulang kali yang buruk-buruk terus,” kata Effy.
“Jadi singkatnya menurut saya, political branding dari Kang Dedi itu saya harus akui, saya apresiasi bener ya,” katanya.
Hal itu, kata Effy, juga dilihat dari rekam jejak Dedi mungkin sejak sebelum menjadi Gubernur Jawa Barat.
“Karena dilihat dari track record-nya, bagaimana dia berinteraksi dengan masyarakat sekitar, bukan hanya sekadar studi banding,” ungkap Effy.
Redaksi RS,SH




