Purwakarta. Suararadarcarabuana.com – Puluhan pelajar SMP dari Purwakarta memulai program pembinaan karakter berbasis militer di Markas Batalyon Artileri Medan 9/1 Sthira Yudha. Mereka dikirim ke barak militer karena dinilai sulit dikendalikan baik di sekolah maupun di rumah, sehingga dianggap harus mengikuti pelatihan disiplin selama 14 hari.
Pemerintah Kabupaten Purwakarta mendampingi para siswa ini tiba siang hari dan langsung diarahkan ke barisan tanpa jeda, mengikuti instruksi cepat, dan tegas dari para anggota TNI.
Program ini menjadi langkah alternatif pemerintah daerah dalam menangani perilaku remaja bermasalah, dengan harapan pendekatan militer dapat membentuk sikap disiplin, tanggung jawab, dan etika.
Fakta-fakta Pengiriman Siswa Nakal di Jabar ke Barak Militer
1. Sampai Kapan Siswa di Barak Militer?
Sebanyak 39 pelajar SMP dari wilayah Purwakarta resmi menjalani program pembinaan karakter berbasis militer yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten Purwakarta. Mereka akan tinggal di barak militer milik Resimen Artileri Medan 1 Sthira Yudha, Batalyon Armed 9, selama 14 hari penuh, terhitung mulai 2 Mei 2025.
Rombongan siswa tiba di markas militer di Desa Ciwangi, Kecamatan Bungursari, pada Kamis (1/5), dengan pengawalan kendaraan dari pemerintah daerah. Setibanya di lokasi, mereka langsung diarahkan masuk ke barisan dan mengikuti instruksi dari anggota TNI. Tak ada masa perkenalan, setiap siswa langsung dihadapkan pada ritme kedisiplinan khas militer sejak awal kedatangan.
Selama dua pekan ke depan, para siswa akan tinggal di barak dan mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang mengedepankan kedisiplinan dan pembentukan mental.
Baca juga ; https://www.suararadarcakrabuana.com/psikolog-kritik-program-barak-militer-dedi-mulyadi/
2. Alasan Mengirim Siswa ke Barak Militer
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti makin maraknya kasus pelanggaran berat oleh anak sekolah. Salah satu kasus yang ia angkat adalah insiden memilukan di Purwakarta, di mana seorang siswa diduga menghabisi nyawa kakeknya karena kecanduan game daring.
Dedi menyebut tragedi ini sebagai peringatan keras bahwa pendekatan pendidikan konvensional dan pola asuh di rumah tak lagi memadai dalam menghadapi generasi muda yang mulai keluar jalur.
Sebagai solusi, Dedi mengusulkan agar siswa dengan perilaku menyimpang bisa ditempatkan di lingkungan berdisiplin tinggi seperti barak militer. Menurutnya, hal ini bukan dimaksudkan sebagai hukuman, tetapi sebagai bentuk intervensi terstruktur untuk membina ulang perilaku mereka. Ia juga menggarisbawahi bahwa banyak orang tua dan guru kini merasa kehilangan kendali atas anak-anak yang makin sulit diarahkan.
“Barak bukan penjara, tapi wadah untuk menanamkan nilai tanggung jawab, disiplin, dan moralitas,” jelas Dedi. Ia menekankan bahwa langkah ini perlu dipertimbangkan serius oleh pemerintah sebagai alternatif pendidikan karakter, terutama bagi remaja yang sudah menunjukkan gejala penyimpangan serius.
3. Kriteria Siswa yang Dikirim ke Barak Militer
Gubernur Dedi Mulyadi mengungkapkan rencana pembinaan karakter di barak militer bagi siswa yang sudah dinilai sulit dikendalikan oleh lingkungan keluarga maupun sekolah.
Dalam keterangannya, Dedi menyebut bahwa program ini ditujukan khusus bagi remaja yang terlibat dalam tindakan-tindakan berisiko tinggi seperti tawuran, balapan liar, geng motor, penyalahgunaan narkoba, hingga pelanggaran hukum lainnya.
Seleksi peserta dilakukan melalui koordinasi antara pihak sekolah dan orang tua. Kesepakatan dari kedua belah pihak menjadi syarat utama sebelum siswa dikirim ke barak. Di sana, mereka akan menjalani masa pembinaan selama enam bulan, fokus pada penguatan karakter, mentalitas, serta disiplin.
Redaksi ; Rakhmat sugianto.SH





