Profesor IPB Ungkap Ciri-ciri Beras Oplosan

Suararadarcakrabuana.com – Seluruh masyarakat Indonesia, wajib untuk waspada terhadap peredaran beras oplosan yang kerap dijual di pasaran dengan harga murah, namun kualitasnya tidak sesuai standar konsumsi.

Beras oplosan merupakan campuran dari berbagai jenis beras dengan kualitas berbeda yang biasanya dilakukan untuk mendapatkan keuntungan lebih besar oleh oknum pedagang nakal.

Praktik pengoplosan beras bisa merugikan konsumen karena selain menurunkan kualitas, juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan jika dicampur bahan berbahaya.

Untuk itu, penting mengetahui ciri-ciri beras oplosan agar konsumen tidak tertipu saat membeli beras untuk kebutuhan sehari-hari di pasar tradisional maupun toko modern.

Baca juga  : https://www.suararadarcakrabuana.com/pemkot-bogor-tak-ikuti-kebijakan-gubernur-jabar/

Pakar teknologi industri Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Tajuddin Bantacut mengatakan, karakteristik beras oplosan dapat dikenali secara kasat mata, baik sebelum maupun sesudah dimasak.

Ciri-ciri beras oplosan sebelum dimasak dapat diidentifikasi dari warna yang tidak seragam dan ukuran butirannya yang berbeda.

Sementara itu, salah satu tanda beras oplosan bisa terlihat setelah dimasak, yaitu nasi menjadi lebih lembek.

“Jika menemukan nasi yang berbeda dari biasanya seperti warna, bau (aroma), tekstur, dan butiran maka dapat dicurigai sebagai beras yang telah dioplos dalam arti terdapat kerusakan mutu atau keberadaan benda asing,” ujar Tajuddin.

Baca juga : https://www.suararadarcakrabuana.com/kabar-duka-yunita-ababiel-meninggal-dunia/

Tajuddin juga menjelaskan beberapa jenis beras oplosan yang beredar di masyarakat.

  • Jenis pertama adalah beras campuran yang dicampur dengan bahan lain, seperti jagung. Menurut Tajuddin, jenis beras oplosan tersebut biasanya ditemukan di beberapa daerah.
  • Jenis kedua adalah beras blended, yaitu campuran dari beberapa beras. Pedagang nakal melakukan hal ini untuk memperbaiki tekstur dan rasa.

Sementara itu, jenis ketiga dari beras oplosan adalah beras yang dicampur dengan bahan yang sudah rusak atau tidak lazim.

Beras seperti itu kemudian dipoles ulang atau dibuat menjadi mengilap supaya terlihat bagus walaupun mutunya sudah menurun atau berada di bawah standar.

Baca juga ; https://www.suararadarcakrabuana.com/mengenal-peraturan-perbup-larangan-pungli-di-sekolah/

Tajuddin menjelaskan,  bahwa masyarakat perlu mewaspadai beras oplosan karena beras ini dicampur dengan bahan tambahan benda asing, termasuk pengawet berbahaya atau zat pewarna.

Karena Bahan-bahan tersebut berpotensi membahayakan kesehatan, apabila dimakan dalam jangka panjang.

Tajuddin menyampaikan, beras idealnya disimpan maksimal selama enam bulan untuk menjaga kualitasnya.

Sebaiknya tidak disimpan beras melebihi jangka waktu tersebut supaya terhindar dari kerusakan alami, kualitas beras bisa menurun karena beberapa faktor, yakni mikroorganisme, lingkungan, dan hama.

“Beras yang rusak bisa dipoles ulang. Namun, jika kerusakannya sudah parah, baik secara fisik, kimiawi, maupun mikrobiologis, maka tidak layak untuk dikonsumsi. Terlebih apabila mengandung bahan kimia atau pengawet, bisa berbahaya untuk kesehatan,” pungkas Tajuddin.

Redaksi ; 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!