Para Petani Tumpahkan Tebu di Depan Pabrik Gula GMM

Blora.suararadarcakrabuana.com- Para petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora bersama elemen masyarakat dan mahasiswa menggelar aksi Tumpah Tebu di depan Pabrik Gula (PG) Gendhis Multi Manis (GMM) Todanan, Senin (1/6/2026).

Mereka menumpahkan tebu di depan gerbang masuk pabrik sebagai simbol kekecewaan atas belum adanya kepastian penyerapan hasil panen petani. Aksi ini merupakan kelanjutan aksi sebelumnya pada 2 April 2026 yang digelar di Alun-alun Blora.

Aksi jilid kedua yang diisi dengan orasi, mimbar bebas, hingga teatrikal rakyat itu menjadi puncak kegelisahan petani setelah operasional PG GMM berhenti akibat kerusakan mesin. Kondisi tersebut membuat ribuan hektare tanaman tebu memasuki masa panen tanpa kepastian tujuan pengolahan.

Sekretaris APTRI Blora Anton Sudibyo menegaskan, aksi kali ini merupakan upaya menagih janji Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog yang sebelumnya menyatakan siap menyerap 100 persen tebu petani Blora. ‘

‘Kami kumpul di sini menagih janji Dirut Bulog yang sudah tanda tangan di atas materai bahwa 100 persen tebu petani Blora akan diserap. Perjuangan sudah dilakukan dari ke Bupati sampai ke Menteri, tetapi sampai hari ini belum ada kegiatan penyerapan. Petani hanya diberi janji-janji,” tegas Anton di hadapan massa aksi.

Baca Juga: https://www.suararadarcakrabuana.com/anggota-dprd-sukabumi-serap-aspirasi-warga-reses-2026/

Menurutnya, kondisi ini membuat petani berada dalam situasi sulit karena sebagian besar biaya tanam berasal dari pinjaman perbankan yang harus segera dibayar setelah panen. Anton Sudibyo menilai persoalan yang menimpa petani tebu Blora bertolak belakang dengan target pemerintah mewujudkan swasembada gula nasional pada 2027.

”Kalau petani seperti ini terus, bagaimana mau swasembada gula? Kami berharap persoalan ini diketahui Presiden Prabowo. Kalau perlu kami akan mengadu langsung ke Istana Negara,” tegasnya.

Selain petani, berhentinya operasional PG GMM juga memukul roda ekonomi pedesaan. Ribuan buruh tebang, sopir angkutan tebu, pekerja bongkar muat, hingga pedagang kecil yang selama ini menggantungkan hidup pada musim giling turut terdampak.

Dalam tuntutannya di aksi jilid II ini massa mendesak negara hadir melindungi petani, membuka secara transparan persoalan utang PG GMM, menjamin harga serta pembayaran hasil panen, dan meminta Komisi IV serta Komisi VI DPR RI turun langsung ke Blora.

Koordinator aksi Exy Wijaya mengatakan petani memahami kondisi PG GMM yang belum bisa beroperasi. Namun, mereka meminta solusi konkret agar tebu yang sudah siap panen tidak rusak di lahan.

Baca Juga: https://www.suararadarcakrabuana.com/presiden-prabowo-copot-kepala-bgn-dadan-hindayana/

”Kami butuh jawaban, bukan narasi. Kalau memang tebu harus dikirim ke pabrik gula lain, berikan subsidi biaya angkut. Misalnya Rp 1 juta per truk. Yang penting hasil panen petani bisa terselamatkan,” katanya.

Petani menumpahkan tebu di depan gerbang masuk Pabrik Gula GMM di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Blora, Senin (1/6/2026). Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PG GMM Sri Emilia Mudiyanti didampingi Direktur Operasional PG GMM Krisna dan perwakilan Bulog Andin, hadir menemui para petani tebu dalam aksi kali ini.

Mereka dipersilakan naik di atas panggung. Sri Emilia Mudiyanti menyampaikan apresiasi atas aspirasi yang disampaikan petani. Dia mengakui PG GMM belum dapat beroperasi karena kerusakan mesin yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

”Kami memahami kegelisahan petani. Prioritas kami sekarang mencari solusi agar tebu petani bisa dialihkan ke pabrik gula lain di sekitar Blora. Sudah ada tim yang dibentuk oleh Bulog untuk mendata tebu yang siap panen dan akan dialirkan ke pabrik lain,” ujarnya.

Terkait permintaan subsidi biaya angkut, Sri Emilia Mudiyanti mengatakan usulan tersebut masih dalam proses evaluasi di tingkat pusat.

Baca Juga: https://www.suararadarcakrabuana.com/modus-korupsi-dadan-cs-mark-up-pengadaan-barang-dan-jasa/

”Kami BUMN sehingga tidak bisa langsung mengambil keputusan. Saat ini masih dalam tahap pengusulan dan evaluasi,” katanya.

Perwakilan Perum Bulog, Andin, yang hadir dalam dialog dengan petani berjanji membawa seluruh aspirasi tersebut ke Jakarta.

”Besok pagi saya bawa semua hasil pertemuan ini untuk dibahas di pusat. Mudah-mudahan dalam dua minggu sudah ada kabar dan kepastian yang bisa kami sampaikan kepada petani tebu Blora,” tandasnya.

Namun pernyataan itu disambut skeptis oleh sebagian peserta aksi. Exy Wijaya bahkan mengingatkan bahwa petani akan kembali turun ke jalan dengan jumlah massa lebih besar jika janji tersebut kembali tidak terealisasi.

”Oke, dua minggu lagi kami akan datang ke sini. Kalau ini hanya janji lagi, kami akan datang dengan massa yang lebih besar,” tegasnya.

Sekadar diketahui, mesin boiler PG GMM rusak sejak Mei 2025. Mesin tersebut sempat diperbaiki namun rusak lagi. Akibatnya, sejak Oktober 2025, operasional giling tebu PG GMM dihentikan hingga sekarang.

RED/SRC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!