Jakarta. Suararadarcakrabuana.com – Jumlah korban kebakaran gedung apartemen di Wang Fuk Court di distrik utara Tai Po, Hong Kong terus bertambah. Hingga Jumat (28/11/2025) pagi, pihak berwenang menyampaikan bahwa korban tewas meningkat menjadi 94 orang.
Dikutip dari BBC, salah satu korban adalah pemadam kebakaran berusia 37 tahun. Menurut petugas pemadam kebakaran, sedikitnya 76 orang terluka, termasuk 11 personilnya.
Sementara itu, Pemimpin Hong Kong, John Lee mengatakan sebanyak 279 orang hilang sejak insiden terjadi. Namun, jumlah tersebut juga belum pasti lantaran pihak berwenang belum memberikan informasi resmi.
Lantas, apa sebenarnya penyebab kebakaran hebat di gedung apartemen Tai Po, Hong Kong? Dikutip dari The Guardian, kepolisian di Hong Kong menduga, penyebab kebakaran gedung apartemen 32 lantai di Tai Po, Hong Kong dipicu oleh perancah yang tidak aman.
Baca juga ; https://www.suararadarcakrabuana.com/insiden-kebakaran-di-hongkong-tewaskan-puluhan-wni/
Selain itu, petugas juga menemukan material busa yang digunakan selama renovasi bangunan. Kedua material tersebut diduga menjadi penyebab api menyebar dengan cepat ke blok menara perumahan.
Kendati demikian, masih dibutuhkan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan sumber percikan api. Sebagai informasi, Hong Kong adalah salah satu negara di dunia yang masih menggunakan bambu untuk keperluan konstruksi bangunan.
Di sana, bambu digunakan untuk menyangga kisi-kisi yang rumit dengan cara diikat menggunakan tali pengikat lalu dililitkan di sekitar gedung-gedung tinggi.
Pemandangan ini menjadi hal yang umum dilihat di Hong Kong. Bambu dinilai lebih unggul karena lebih ringan dan murah jika dibandingkan dengan logam. Penggunaannya dalam konstruksi bangunan juga dilihat sebagai salah satu bentuk seni.
Di sisi lain, tanaman ini juga melimpah di China selatan, meski sebagian besar lokasi konstruksi di daratan China kini sudah menetapkan perancah logam sebagai standar bangunan.
Namun, sifat bambu yang mudah terbakar menimbulkan kerentanan yang kritis. Apalagi, sebagian besar apartemen di Hong Kong memiliki celah sempit antar bangunan sehingga api mudah menyebar ke bangunan di sebelahnya.
Menyikapi potensi bahaya yang ditimbulkan, pemerintah Hong Kong mengumumkan akan mengurangi penggunaan bambu secara bertahap pada konstruksi bangunan.
Hal itu disampaikan pada Maret 2025 lalu, Pemerintah setempat mengaku, mereka bakal menetapkan agar setiap konstruksi bangunan menggunakan baja tahan api menggantikan bambu demi keamanan.
Pemerintah juga menyatakan bahwa 50 persen pekerjaan konstruksi publik akan diwajibkan menggunakan rangka logam.
Selain tahan api, logam juga lebih tahan terhadap cuaca lembab di Hong Kong dibandingkan dengan bamb Tak hanya konstruksi bangunan yang disorot, kritik atas upaya tanggap darurat awal juga banyak diprotes.
Salah seorang penghuni apartemen yang berusia 80 tahun mengatakan bahwa alarm kebakaran tidak berbunyi saat insiden terjadi.
“Tidak ada alarm yang berbunyi, jadi kami baru menyadari kebakaran ketika mencium bau asap atau mendengar petugas keamanan mengetuk pintu. Jika saya tertidur, saya pasti sudah terjebak,” ucapnya dikutip dari The Chosun.
Penghuni apartemen itu menyebut, mitigasi yang tidak memadai memperparah kebakaran. Akibat insiden ini, kepala polisi Hong Kong, Eileen Chung menangkap tiga orang dari perusahaan konstruksi. Mereka adalah dua direktur dan satu konsultan teknik telah ditangkap.
“Kami punya alasan untuk meyakini bahwa pihak-pihak yang bertanggung jawab di perusahaan tersebut sangat lalai, yang menyebabkan kecelakaan ini dan menyebabkan kebakaran menyebar tak terkendali, yang mengakibatkan banyak korban jiwa,” kata dia, dilansir dari The Guardian.
Chung tidak menyebutkan nama perusahaan tersebut, tetapi polisi kemudian menggeledah kantor Prestige Construction and Engineering Company pada Kamis (27/11/2025) kemarin. Petugas menyita kotak-kotak dokumen sebagai barang bukti, menurut media lokal.
WonK Alit




