CIREBON, Suararadarcakrabuana.com – Petani di Desa Gegesik, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mengeluhkan hasil produksi panen padi pada Musim Tanam Satu (MT1) yang anjlok.
Mereka mengalami gagal panen yang mencapai lebih dari 50 persen, yang berimbas pada berkurangnya ketersediaan stok gabah.
Dedi Abas, seorang petani dari Desa Gegesik yang menggarap area pertanian di Desa Jagapura Lor, mengaku sangat terpukul dengan kondisi ini.
Dedi, yang telah puluhan tahun menjadi petani, merasa sangat merugi pada panen kali ini.
Dari luas area satu bahu atau setara 7.000 meter persegi, Dedi hanya mendapatkan sekitar 2 ton gabah basah, menurun lebih dari 50 persen dari biasanya yang mencapai 4-5 ton per panen.
Ia menggarap lahan pertanian seluas 2 bahu atau setara 14.000 meter persegi.

“Rugi. Sekarang rugi total. Rata-rata kerugian gagal panen itu 50 sampai 70 persen. Masalahnya hama, tapi tak terlihat, jadi ini serangan hama (virus) parah, bukan saya saja, sawah lain juga sama,” kata Dedi.
Dedi, yang juga merupakan Ketua Forum Rembug Tani Cirebon dan sekitarnya, menyatakan bahwa banyak petani di wilayah Gegesik merugi signifikan pada musim panen kali ini.
Kondisi ini juga berpengaruh terhadap pabrik penggilingan yang tidak mendapatkan stok gabah dari petani.
Baca juga : https://www.suararadarcakrabuana.com/di-duga-ijazah-paket-b-kuwu-pabedilan-wetan-palsu/
Pabrik Penggilingan Berhenti Operasi Sementara
Kondisi serupa juga dialami pabrik penggilingan beras milik Surnita Sandi Winata di Desa Gegesik Lor, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon.
Pabrik yang memiliki kapasitas giling padi 10 ton per hari ini terpaksa berhenti operasi sementara.
Pantauan Kompas.com di pabrik beras menunjukkan area penjemuran padi yang kosong.
Pelataran yang biasanya dipenuhi gabah kini benar-benar bersih.
Sandi dan pekerja memilih untuk tidak menjemur padi, sehingga aktivitas di area jemur padi tidak ada.
Mereka juga tidak menggiling padi-padi yang telah kering seperti sebelumnya.
Sandi menyebutkan bahwa kondisi ini sudah berlangsung sejak dua pekan lalu.
Mereka tidak mendapatkan gabah dari petani lokal Cirebon.

Pekan lalu, mereka mendapatkan gabah dari kawasan Kertajati, Kabupaten Majalengka, dengan harga Rp7.000 per kilogram.
Kelangkaan gabah dari para petani terjadi karena hasil panen musim tanam satu (MT1) tidak maksimal.
Sebagian besar petani mengalami gagal panen akibat serangan hama dan kondisi cuaca yang tidak menentu.
“Penggilingan sedang tidak jalan, tidak ada gabah, sementara kita off dulu, sudah 2 sampai 3 minggu kondisi seperti ini. Utamanya karena gagal panen, kena penyakit, hama, jadi hasil dari petaninya tidak ada,” kata Sandi saat ditemui awak media pada Selasa (22/7/2025) siang.
Gabah langka namun harga setinggi langit, sehingga untuk mendapatkan pasokan gabah sangat susah , bahkan para tengkulak gabah dilapangan berebut.
Sandi juga mengungkapkan bahwa saat ini terjadi rebutan gabah.
Gabah diperebutkan oleh pengusaha-pengusaha besar yang “bermain” beras, serta Satgas Pangan yang membeli gabah langsung dari petani dengan harga tinggi.
Sandi menilai bahwa mereka tidak bisa menilai kondisi kualitas gabah, tetapi tetap membeli gabah dengan harga mahal, sekitar Rp7.000-6.500 per kilogram.
Kondisi ini memicu kenaikan harga beras secara mendadak karena harga beli bahan baku yang tinggi.
Padahal, gabah yang dibeli oleh pengusaha dan Satgas Pangan seharusnya dapat dibeli pabrikan dengan harga Rp5.000 per kilogram, sesuai dengan kualitas yang kurang bagus.
Sandi memilih untuk berhenti operasi sementara karena tidak mendapatkan gabah.
Meskipun ada gabah berkualitas baik, harganya sangat mahal.
Saat ini, satu kilogram gabah basah kualitas medium premium mencapai sekitar Rp7.750 hingga Rp8.000.
Sandi menilai pemerintah harus segera mengambil langkah untuk menangani masalah ini.
“Harga tidak akan berhenti naik sebelum ada kebijakan dari pemerintah mengingat masa panen padi kedua masih cukup lama,” tegasnya.
Rojani, seorang kuli pabrik penggilingan beras, mengungkapkan bahwa ia tidak dapat bekerja saat pabrik berhenti beroperasi.
Ia mengandalkan pekerjaan menggiling beras untuk menafkahi istri, dua anak, dan orang tuanya.
“Kalau henti operasi kaya gini jelas merugikan. Gak ada pemasukan soalnya. Saya tetap harus ngasih istri dan dua anak di rumah,” kata Rojani ketika di konfirmasi awak media pada Selasa (22/7/2025) siang.
Untuk sementara, Rojani terpaksa menggarap sawah agar tetap dapat pemasukan dan membawa uang untuk keluarganya.
Redaksi ; RS,SH




