.com – Baru – baru ini, masyarakat jawa barat dikejutkan dengan kemunculan BBM baru yang bernama Boboibos. Bobibos yang terbuat dari jerami hasil panen petani diklaim merupakan BBM alternatif ramah lingkungan.
Selain itu, pemilik Bobibos mengklaim bahan bakar ini memiliki RON 98,1. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi dan pemilik Bobibos resmi menandatangani kerjasama (MoU).
Sementara itu, pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta dilakukan uji kelayakan sebelum Bobibos diproduksi massal dan dijual ke masyarakat.
Dedi Mulyadi menunjukkan langkah cepat dalam mendorong energi terbarukan di daerahnya.
Ia mengumumkan akan menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan pemilik Bobibos, produk bahan bakar nabati (BBN) inovatif yang diolah dari limbah jerami. MoU ini menjadi babak baru bagi Bobibos.
Dedi Mulyadi menyebut bahwa produksi skala kecil akan segera dimulai pada pekan depan setelah panen, dan rencananya dapat diakses masyarakat luas setelah melalui fase uji coba.
“Nah, ini bosnya Bobibos. Kita sudah tanda tangan MoU. Minggu depan kita panen, maka jeraminya akan segera dibuat produksi untuk bahan bakar nabati,” kata Dedi Mulyadi.
KDM, sapaan akrabnya, sangat antusias melihat potensi Bobibos yang tidak hanya menawarkan solusi energi ramah lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi para petani yang selama ini memandang jerami sebagai limbah.
Meskipun optimistis untuk segera memproduksi massal dan tidak menunggu birokrasi, Dedi Mulyadi menyebut konsumsi awal Bobibos akan difokuskan pada uji coba di lingkungan Lembur Pakuan Subang, Jawa Barat.
“Setelah sukses, nanti ada langkah-langkah berikutnya. Minimal seluruh jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat ke depan menggunakan bahan bakar nabati. Sehingga APBD-nya efisien,” jelas KDM.
Sebelumnya, uji coba Bobibos pada traktor diesel di Lembur Pakuan menunjukkan performa yang menjanjikan, awal pekan ini, diklaim memiliki Research Octane Number (RON) 98, dengan tarikan lebih ringan dan emisi gas buang yang diklaim lebih bersih.
Namun, di balik pengembangan Bobibos masih diwarnai pro dan kontra, terutama dari sisi regulasi dan kelayakan teknis dari pemerintah pusat.
Pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang diwakili oleh Menteri (kita gunakan Menteri ESDM), mengisyaratkan bahwa Bobibos masih memerlukan uji kelayakan dan standar yang ketat sebelum dapat diproduksi secara massal dan dilempar ke pasar secara nasional.
Proses uji ini penting untuk memastikan bahwa Bobibos memenuhi standar kualitas, keselamatan, dan tidak merusak mesin kendaraan dalam jangka panjang.
Sikap kehati-hatian Kementerian ESDM ini dilakukan untuk menjamin keamanan konsumen dan menjaga kualitas bahan bakar di pasaran.
“Pengujiannya harus komprehensif, tidak cukup hanya dari uji lapangan awal,” demikian salah satu pernyataan yang disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam beberapa kesempatan mengenai inovasi energi alternatif.
Adapun dari sisi akademik, kalangan perguruan tinggi menilai inovasi Bobibos menjanjikan, namun tetap membutuhkan uji multidisipliner yang ketat.
Dalam ulasan resminya, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menegaskan bahwa validasi bahan bakar baru tidak cukup hanya dengan hasil laboratorium tunggal.
Diperlukan serangkaian uji keselamatan produksi, standar emisi, serta ketahanan mesin dalam berbagai kondisi iklim dan merek kendaraan.
“Regulator harus memastikan produk tidak hanya bagus di laboratorium, tapi juga aman, andal, dan berkelanjutan di lapangan,” tulis FMIPA Unesa dalam ulasannya.
Redaksi ; Wonk Alit




