Bsndung. Suararadarcakrabuana.com – Ada kisah seorang ustad di Babakan Ciparay, Bandung, ada seorang guru ngaji bernama Ustadz Deni (40 tahun) dan istrinya Aifani (37 tahun). Beliau bukan sekadar mengajar huruf demi huruf Al-Qur’an, tapi juga menan4mkan akhl4k dan iman kepada 80 an4k, tanpa pernah memungut bayaran sepes3r pun.
Namun takdir berkata laiin, karena menunggak kontrakan selama 3 bulan, Ustadz Deni dan keluarganya harus dius1r dari tempat yang selama ini menjadi rumah sekaligus tempat mengaji.
Kini mereka pindah ke tempat yang j4uh lebih kecil dengan kondisi ruangnya semp1t, nap4snya pun terasa ses4k.
Dari 85 murid, kini hanya 40 an4k yang masih bisa belajar meng4ji,
bukan karena tak mau, tapi karena tempatnya tak lagi mampu men4mpun9. Ir0nisnya, kontrakan itu pun baru bisa diperpanjang seminggu.
Untuk menyambun9 hidup, Ustadz Deni tak memilih pekerjaan, beliau berdag4n9 kecil-kecilan, menit1pkan jajanan orang lain demi sekadar mendapatkan fee seperti sales.
Saat diminta jadi burvh apa saja bahkan membersihkan sel0kan yang mampet, beliau tak pernah men0lak.
Pernah mencoba usaha keripik basreng, dikarenakan mod4lnya habis, bukan untuk untung melainkan untuk makan sehari-hari, itu pun masih kur4n9.
Hari ini, Ustadz Deni hanya mengandalkan pekerjaan serabut4n dengan memijat orang, membantu pekerjaan rumah, dibayar Rp50.000 per hari dan itu pun tidak setiap hari ada.
Di saat banyak orang berlomb4 mengej4r dunia, ada seorang guru ngaji yang Bert4h4n hidup demi tetap mengajarkan Al-Qur’an. Mungkin beliau tidak kaya harta tapi insyaallah kaya pahala.
Wonk alit




