Sejarah Terbentuknya Paskibraka Indonesia Dan Formasi 17-8-45

S.com – Pasukan Pengibar Bendera Pusaka alias Paskibraka selalu menjadi daya tarik dalam upacara bendera saat peringatan HUT Republik Indonesia setiap 17 Agustus.

Paskibra identik dengan pakaian seragam putih, baris-berbaris, dan cara berjalannya. Tahukah kamu bagaimana awal terbentuknya Paskibraka?

Mengutip situs resmi Paskibraka BPIP, Minggu (17/8/2025) pembentukan Paskibraka tidak sebatas untuk menaikkan dan menurunkan bendera pusaka ketika Dirgahayu Republik Indonesia.

Akan tetapi, menjadi suatu program pengkaderan calon pemimpin bangsa yang berkarakter Pancasila.

Baca juga: https://www.suararadarcakrabuana.com/momen-perdana-presiden-prabowo-pimpin-upacara-hut-ri-ke-80/

Sejarah awal petugas Paskibraka

Gagasan Paskibraka lahir pada tahun 1946, kala ibu kota Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta.

Untuk memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-1, Presiden Soekarno memerintahkan salah satu ajudannya, Mayor (Laut) Husein Mutahar menyiapkan pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta.

Di benak Mutahar terlintas ide pengibaran bendera pusaka sebaiknya dilakukan oleh para pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air, karena mereka adalah generasi penerus perjuangan bangsa.

Namun, gagasan itu sulit terlaksana. Mutahar hanya bisa menghadirkan lima orang pemuda (tiga putra dan dua putri) yang melambangkan Pancasila.

Mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda tetapi kebetulan sedang berada di Yogyakarta. Salah satunya Siti Dewi Sutan Assin.

Sejak itu, sampai tahun 1949, pengibaran bendera di Yogyakarta dilaksanakan dengan cara yang sama.

Lalu ketika Ibu kota dikembalikan ke Jakarta pada 1950, Mutahar tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka.

Pengibaran bendera pusaka pada setiap 17 Agustus di Istana Merdeka dilaksanakan oleh Rumah Tangga Kepresidenan sampai tahun 1966.

Selama periode tersebut para pengibar bendera dipilih dari pelajar dan mahasiswa yang ada di Jakarta.

Pengembangan petugas Paskibraka

Presiden Soeharto pada 1967 memanggil Mutahar untuk menangani masalah pengibaran bendera pusaka.

Berdasar pada ide pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta, dia mengembangkan formasi pengibaran menjadi tiga kelompok yang dinamai sesuai jumlah anggotanya, yaitu:

1. Pasukan 17: pengiring (pemandu).

2. Pasukan 8: pembawa bendera (inti).

3. Pasukan 45: pengawal.

Jumlah ini merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 (17-8-45).

Waktu itu, dengan situasi kondisi yang ada Mutahar hanya melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk pengibaran bendera pusaka.

Untuk kelompok 45 (pengawal), mengambil dari anggota Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) karena mereka mudah dihubungi dan bertugas di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta.

Per tanggal 17 Agustus 1968, petugas pengibar bendera pusaka adalah para pemuda utusan provinsi.

Baca juga ; https://www.suararadarcakrabuana.com/ada-apakah-bupati-sudewo-tak-hadiri-upacara-hut-ri-ke-80/

Tahun 1969 anggota pengibar bendera para remaja siswa SLTA

Tetapi karena belum seluruh provinsi mengirimkan utusan sehingga masih harus ditambah oleh eks-anggota pasukan tahun 1967.

Barulah tahun 1969 anggota pengibar bendera pusaka adalah para remaja siswa SLTA yang merupakan utusan dari seluruh provinsi di Indonesia dan tiap provinsi diwakili oleh sepasang remaja putra dan putri.

Istilah yang digunakan dari tahun 1967 sampai tahun 1972 masih Pasukan Pengerek Bendera Pusaka. Kemudian di tahun 1973, Idik Sulaeman melontarkan suatu nama untuk Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan Paskibraka.

Sejarah Indonesia

Redaksi ; RS.SH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!