Sukabumi,Suararadarcakrabuana.com – Di tengah – tengah meriah perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 80. Perayaan HUT RI dirayakan para pejabat tinggi dari Sabang sampai Merauke,
Namun bagi warga Kampung Ciaul, Sukaresmi, Cimanggu, dan Kampung Datar Kalapa, Desa Mekartani, Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi. Perayaan
tersebut sebagai luka yang mendalam bagi ke empat warga tersebut,
” Kemerdekaan hanya sebatas seremoni tanpa makna nyata dalam kehidupan sehari-hari, lihat jalan di ke empat kampung masih berlumpur.” Ujar salah satu warga
Ketiga kampung itu masih terbelenggu oleh infrastruktur yang rusak parah, terutama akses jalan yang lebih menyerupai kubangan kerbau ketimbang jalur penghubung antarwilayah.
Saat hujan turun, lumpur menyergap, membuat jalanan licin dan nyaris tak bisa dilalui. Anak-anak sekolah harus berjalan kaki berkilo-kilometer, tak jarang terjatuh karena jalan yang becek dan berbatu.
“Ini bukan jalan desa, ini jalur penderitaan! Kalau hujan, bisa-bisa nyawa taruhannya. Tapi siapa yang peduli? Pemerintah? Mereka cuma datang pas butuh suara, Apakah ini yang dinamakan Indonesia Merdeka ?” keluh Su (45), warga Kampung Cimanggu, Minggu (17/8/2025), penuh emosi kepada DBestNews.

Menurut pengakuan warga yang lebih memilukan di Kampung Datar Kalapa, empat kepala keluarga korban longsor pada 4 Desember 2024 hingga kini masih bertahan di gubuk darurat dari terpal dan kayu lapuk.
Sembilan bulan berlalu tanpa hunian sementara, tanpa bantuan berarti dari pemerintah. Janji-janji bantuan rumah yang pernah disampaikan pemerintah daerah hanya tinggal kenangan.
“Hidup seperti ini lebih mirip pengungsi perang. Kami tidur di bawah terpal bocor, di atas tikar basah, diterpa angin dan hujan tiap malam. Inikah arti kemerdekaan?” lirih seorang nenek, menggigil menahan dingin.
Sementara miliaran rupiah anggaran digelontorkan untuk pesta kemerdekaan, warga di pelosok Sukabumi ini hanya bisa mengenang arti “merdeka” melalui air mata dan penderitaan. Tidak ada jalan, tidak ada rumah layak, bahkan tidak ada perhatian. dari tingkat pemerintah Desa, Pemerintah Daerah, Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Pusat
“Delapan puluh tahun merdeka, tapi kami masih dijajah oleh ketidakadilan dan kelalaian. Kami bukan minta emas atau istana. Kami cuma ingin jalan yang bisa dilalui dan tempat tinggal yang tidak bocor saat hujan. Kemana?” ucap seorang tokohkah hati nurani para pejabat terhadap kami orang miskin masyarakat setempat, dengan suara bergetar menahan kecewa.

Sorotan tajam datang dari Rusdi, wartawan senior dan Kabiro Bocimi DBestNews, yang juga putra asli Kampung Cimanggu. Ia menyesalkan lambannya respon pemerintah terhadap kondisi tragis ini. Sebelumnya, media telah beberapa kali menyorot isu yang sama, dengan tajuk:
“Janji Tinggal Janji, Warga Ciaul Sukaresmi Kecewa Pemdes Mekartani Tak Kunjung Perbaiki Jalan”
“Enam Bulan Pasca Longsor, Korban di Kampung Datar Kalapa Mekartani Masih Tidur di Gubuk Seadanya: Janji Bantuan Rumah Hanya Jadi Angin Lalu?”
Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi maupun BPBD terkait langkah konkret yang akan diambil.

Sementara para pejabat bergembira di panggung kemerdekaan, rakyat di akar rumput justru masih terjajah — oleh ketidakpedulian dan pengabaian yang sistemik.
Jika ini yang dimaksud 80 tahun Indonesia merdeka, maka patut kita bertanya: Merdeka untuk siapa?
RED/ RS,SH




