CIREBON-Suararadarcakrabuana.com – Sembilan warga Kota Cirebon, Jawa Barat kembali ke kampung halaman pada Senin (16/11/2025) setelah terjebak dalam bencana banjir bencana banjir dan longsor di Provinsi Aceh beberapa hari.
Salah satu warga terdampak, Karyadi, warga Kecamatan Harjamukti, mengisahkan bencana datang di saat yang sama sekali tak mereka perkirakan.
Dia baru dua hari bekerja sebagai buruh bangunan di Aceh ketika hujan deras memicu banjir dan longsor di sejumlah wilayah. Sejak saat itu, kehidupan normal berhenti seketika.
“Baru dua hari kerja, lalu banjir dan longsor datang. Jalan tertutup, listrik padam, jaringan komunikasi juga hilang. Kami benar-benar terisolasi,” ujar Karyadi, Selasa (16/12/2025).
Menurutnya, kondisi terberat bukan hanya terhentinya pekerjaan, tetapi juga keterbatasan logistik selama terjebak di lokasi bencana. Bersama rekan-rekannya, dia harus bertahan dengan persediaan makanan seadanya.
“Kami makan apa yang ada, cuma nasi dan sayur. Yang penting bisa bertahan,” katanya.
Kesembilan warga tersebut tersebar di beberapa wilayah terdampak bencana, yakni empat orang di Lhokseumawe serta lima orang di Pidie Jaya dan Takengon, Kabupaten Aceh Tengah.
Mereka bekerja di proyek pembangunan yang berlokasi di lingkungan markas TNI. Namun, bencana alam membuat proyek terhenti dan memutus seluruh sumber penghidupan.
Karyadi menuturkan, proses untuk bisa keluar dari lokasi bencana tidaklah mudah. Di beberapa titik, akses jalan tertutup material longsor sehingga sebagian warga harus berjalan kaki untuk mencari jalur aman.
Mereka juga menunggu proses penjemputan dan evakuasi selama hampir satu minggu hingga bantuan datang.
“Rasanya campur aduk, antara takut, capek, dan ingin cepat pulang. Tapi kami saling menguatkan,” ucapnya.
Setelah berhasil dipulangkan ke Kota Cirebon, para warga mendapatkan pendampingan serta bantuan dari Pemerintah Kota Cirebon melalui Dinas Sosial.
Bantuan tersebut diserahkan dalam sebuah pertemuan di Kantor Kecamatan Harjamukti sebagai bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap warganya yang terdampak bencana di luar wilayah.
Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati, menyampaikan pemulangan sembilan warga tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan komunikasi dan kerja sama lintas pihak. Dia menegaskan, keselamatan warga menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
“Jumlahnya ada sembilan orang dan alhamdulillah semuanya kembali dalam kondisi selamat. Prosesnya tidak mudah, tetapi berkat koordinasi dan kolaborasi banyak pihak, akhirnya bisa terwujud,” ujar Siti Farida.
Ia juga mengapresiasi keteguhan para warga yang mampu bertahan dalam kondisi darurat. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa pekerja yang merantau ke luar daerah, khususnya di sektor informal, sangat rentan ketika bencana terjadi.
“Sempat ada yang harus berjalan kaki karena akses benar-benar terputus. Mereka berjuang untuk bisa kembali pulang, dan hari ini kita sambut dengan rasa syukur,” katanya.
Pemerintah Kota Cirebon, lanjut Siti Farida, berkomitmen untuk terus hadir bagi warganya, tidak hanya dalam situasi normal, tetapi juga ketika menghadapi kondisi darurat di mana pun berada.
Dia berharap bantuan yang diberikan dapat meringankan beban warga serta menjadi awal untuk kembali menata kehidupan setelah pengalaman pahit yang mereka alami.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses pemulangan ini. Semoga para warga bisa segera pulih dan kembali beraktivitas bersama keluarga,” pungkasnya
Wonk Alit




