Nasib Malang Bocah 12 Tahun Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri

SUKABUMI.Suararadarcakrabuana.com – Tabir gelap menyelimuti kasus kematian NS (12), bocah asal Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi.

Di tengah dugaan penganiayaan oleh ibu tiri yang viral di media sosial, muncul sejumlah fakta janggal yang kini tengah didalami tim forensik dan kepolisian.

Berikut adalah poin-poin kejanggalan yang dirangkum dari kesaksian sang ayah, Anwar Satibi (38), dan hasil autopsi tim forensik RS Bhayangkara Setukpa Polri:

Baca juga ;https://www.suararadarcakrabuana.com/ironis-kondisi-jalan-kabupaten-bertahun-tak-tersentuh-perbaikan/

1. Klaim ‘Demam Tinggi’ vs Kondisi Melepuh

Anwar Satibi mengaku meninggalkan anaknya dalam kondisi sehat saat hendak bekerja. Namun, hanya dalam dua hari, sang istri menelepon dan mengabarkan NS sakit panas hingga “ngelantur”.

Kejanggalan: Saat tiba di rumah, Anwar mendapati kulit anaknya sudah melepuh. Sang istri berdalih luka melepuh tersebut disebabkan oleh demam tinggi, sebuah penjelasan yang dianggap tidak lazim secara medis untuk kondisi luka bakar luar.

2. Pengakuan Terakhir Korban di IGD: “Disuruh Minum Air Panas”

Kepala Instalasi Forensik RS Bhayangkara Tingkat II Setukpa Lemdiklat Sukabumi, Kombes dr. Carles Siagian. (Tribun Jabar/Dian Herdiansyah)

Sebelum menghembuskan napas terakhir di ruang ICU RS Jampang Kulon, NS sempat memberikan keterangan singkat yang mengejutkan kepada ayahnya saat berada di instalasi gawat darurat (IGD).

Kesaksian Mencekam: Saat ditanya penyebab lukanya, NS menjawab lirih bahwa ia “disuruh minum air panas, tak lama itu, kondisi NS memburuk hingga nyawanya tak tertolong.

Baca juga ; https://www.suararadarcakrabuana.com/reses-perdana-teddy-tegaskan-komitmen-kawal-pembangunan/

3. Hasil Autopsi: Luka Bakar di Bibir, Hidung, dan Anggota Gerak

Kepala Instalasi Forensik RS Bhayangkara, Kombes dr. Carles Siagian, mengungkap fakta medis yang menguatkan adanya trauma panas pada tubuh korban.

Temuan Medis: Terdapat luka bakar di lengan, kaki kanan, kaki kiri, punggung, hingga area bibir dan hidung. Dokter memastikan luka tersebut berasal dari paparan panas, namun belum bisa menyimpulkan apakah hal itu akibat kesengajaan (penganiayaan) atau bukan.

4. Teka-teki Pembengkakan Paru-paru

Selain luka luar, tim forensik menemukan kondisi organ dalam yang tidak normal saat proses autopsi selama tiga jam.Temuan Organ: Paru-paru korban ditemukan dalam kondisi membengkak.

Tim medis kini tengah melakukan uji laboratorium di Jakarta untuk memeriksa apakah ada zat-zat asing atau racun di dalam organ vital korban yang menyebabkan kematian mendadak tersebut.

Langkah Hukum Selanjutnya

Meski ditemukan banyak luka bakar, dokter forensik menyatakan luka-luka tersebut secara teori seharusnya tidak menyebabkan kematian seketika.

Hal inilah yang mendorong penyidik untuk melakukan pemeriksaan laboratorium toksikologi. Ayah korban, Anwar Satibi, menegaskan dirinya menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada hukum.

Baca juga ; https://www.suararadarcakrabuana.com/institusi-kepolisian-kembali-tercoreng-oleh-oknum-pejabatnya/

“Saya tidak bisa menuduh sembarangan. Makanya saya ingin autopsi supaya jelas. Jika terbukti (pidana), saya ingin ada efek jera,” tegasnya.

Hingga saat ini, Polres Sukabumi masih menunggu hasil laboratorium untuk menentukan status hukum selanjutnya.

Beberapa point Utama Kejanggalan :

  • Perubahan Kondisi Cepat: Dari sehat menjadi kritis dalam waktu 48 jam.
  • Lokasi Luka Spesifik: Luka bakar di bibir dan hidung sinkron dengan pengakuan korban soal “air panas”.
  • Hasil Autopsi: Paru-paru bengkak tanpa ditemukan tanda kekerasan benda tumpul.

 

RS S,H/ Jejen/ SRC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!