Sukabumi. Suararadarcakrabuana.com. – TerkaiKasus kematian Nizam (13) di Sukabumi, Jawa Barat, menyita perhatian luas masyarakat.
Remaja tersebut meninggal dunia setelah diduga mengalami penganiayaan oleh ibu tirinya, TR (47).Pihak kepolisian telah menetapkan TR sebagai tersangka dalam perkara itu.
Namun perkembangan kasus tidak berhenti pada penetapan tersebut.Ibu kandung korban, Lisnawati, turut melaporkan Anwar Satibi alias AS yang merupakan ayah NS.
Laporan itu dilayangkan karena dugaan penelantaran terhadap anaknya.Konfirmasi atas laporan tersebut disampaikan langsung oleh Kapolres Polres Sukabumi, AKBP Samian.
“Terkait dengan laporan ibu kandung terhadap suaminya atau pihak dari orang tuanya NS, itu terkait dengan penelantaran Pasal 76.” ujar kapolres Sukabumi AKBP Samian (27/2/2026)
Ia menegaskan bahwa setiap aduan masyarakat akan diproses sesuai aturan hukum yang berlaku.
“Tentunya setiap laporan atau pengaduan dari masyarakat pasti kita akan tindak lanjuti dan tentunya akan bekerja secara profesional, kita akan independent, tidak ada tekanan apapun dan tidak ada kepentingan apapun,” ujar Samian.
“Sekali lagi dari awal bahwa klien kami, seorang ibu yang kehilangan anaknya,”
“Artinya bahwa dia melapor sebagai korban yang telah kehilangan anaknya. Jadi patut diduga adanya kelalaian dan pembiaran di sini, maka klien kami menguasakan kepada kami untuk melaporkan saudara AS (ayah NS),” ujar Krisna.
Ia mengungkap adanya pesan singkat dari ayah korban, dua hari sebelum NS meninggal. Pesan tersebut, ujar Krisna Murti, jadi titik krusial dugaan penelantaran.
“Kenapa kita anggap ini adalah kelalaian dan penelantaran? Karena ada SMS chat sebelum almarhum meninggal,” lanjut Krisna, dikutip dari TribunJabar.id.
Dalam obrolan dengan bahasa Sunda tersebut, NS mengaku sudah merasa sakit di sekujur tubuhnya.Bahkan, paru-parunya juga terasa sakit.
“Chat-nya itu dalam bahasa Sunda. Isinya seperti dia sudah mau “gitu” (meninggal), sudah sakit. Bahkan si Raja (NS) sakit sampai sakit paru-paru katanya. Jadi intinya chat dari ayahnya NS ke Ibu ini tanggal 17 Februari, dua hari sebelum meninggal, isinya menyampaikan bahwa Nizam ini sakit di rumah,” ucap Krisna.
Krisna menambahkan, saat ayah korban ditanya kenapa tidak dibawa ke rumah sakit, AS justru menjawab hal yang seharusnya tak diucapkan oleh seorang ayah.
“Ibu bilang, kenapa nggak dibawa ke rumah sakit? Ayahnya jawab ‘biarin aja, kalaupun dia meninggal tinggal dikit (dimakamkan) di pemakaman keluarga dekat bapaknya si bapak ini (AS)’. Begitu intinya,” jelas Krisna.
Ia menambahkan, NS dulu dirawat oleh kliennya sejak kecil hingga umur tujuh tahun.Disiksa sejak SD oleh ibu tiri, bocah di Sukabumi akhirnya meninggal, fakta pilu kekerasan terungkap. Saat itu, NS sehat dan tak alami penyakit apapun.
“Nah, ketika beralih kepada ayahnya, kalian tahu apa yang terjadi? Kami bingung karena ada perubahan fisik. Kita semua punya anak, kalau pagi ketemu sehat terus sore luka pasti kita tanya kenapa. Lah, ini pembiarannya terlalu lama, ketika diminta dibawa ke rumah sakit, jawabannya belum ada waktu, masih sibuk, kalaupun meninggal, ikhlaskan saja,” ucap Krisna.
Berdasarkan hal tersebut, pihaknya melaporkan ayah kandung korban ke pihak kepolisian.
“Iya, pasal yang kita laporkan itu Pasal 76B Jo Pasal 77B (UU Perlindungan Anak) tentang pembiaran dan penelantaran. Bahkan baru dibawa ke rumah sakit besoknya, padahal dilihat ada luka lebam, luka bakar,” kata Krisna.
Ibu Tiri Jadi Tersangka Kini, TR pun telah resmi ditetapkan sebagai tersangka setelah menjalani sejumlah pemeriksaan, TR terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara.
“Penetapan tersangka terhadap saudari TR daripada korban NS kita tetapkan dengan Pasal (sangkaan) 80 Jo Pasal 76C UUD RI Nomor 35 tahun 2014 Jo UU Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak,” ujar Kapolres Sukabumi, AKBP Saiman.
Saat ditanya motif, kepada polisi, TR mengaku melakukan penganiayaan sebagai cara untuk mendidik anaknya.
“Untuk motifnya sendiri masih kita dalami karena sebagai orang tua berdalih mendidik anaknya,” tambah AKBP Saiman.
Sebelum meninggal dunia, korban sempat dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya yang kritis. Di rumah sakit, korban sempat menceritakan bahwa ia diminta meminum air panas oleh ibu tirinya kepada polisi.
RED/TIM/SRC




