Sukabumi. Suararadarcakrabuana.com – Apa yang selama ini terlihat sebagai rumah tangga biasa, ternyata menyimpan kebohongan yang disusun dengan sangat hati-hati. Perlakuan kej@m yang dialami Dek Nizam bukanlah peristiwa sesaat, melainkan rangkaian kepura-puraan yang telah dirancang sejak lama.
Sebagai seorang perempuan dengan profesi pegawai, ia paham betul cara menampilkan wajah paling lembut di hadapan suami dan lingkungan sekitar.
Senyum, tutur kata halus, dan citra “ibu baik” menjadi topeng yang selalu ia kenakan. Namun ketika pintu rumah tertutup, sosok itu berubah menjadi sumber ketakutan bagi seorang anak yang seharusnya ia lindungi.
Fakta pahit ini sebenarnya telah muncul sejak setahun sebelumnya. Sang ayah pernah melaporkan dugaan penganiayaan ke pihak kepolisian setelah menemukan bekas luka pada tubuh De Nizam. Saat itu, kebenaran nyaris terungkap. Namun segalanya berhenti di tengah jalan.
Dengan air mata dan drama penyesalan, perempuan itu memohon agar laporan dicabut. Ia bersujud, berjanji akan berubah, bersumpah ingin bertobat dan menjadi pribadi yang lebih baik. Sang ayah—yang masih menyimpan cinta dan harapan—memilih percaya.
“Jangan l4por, Mama mau t0bat … mau jadi orang baik,” kenang sang ayah menirukan ucapan boh*ng w4nita itu.
Mediasi pun ditempuh, laporan tak dilanjutkan, dan keadilan kembali tertunda.
Sayangnya, janji itu tak pernah benar-benar lahir dari hati. Kasih sayangnya hanya tertuju pada sang suami, bukan pada anak yang hidup bersamanya.
Dek Nizam tidak diperlakukan sebagai amanah, melainkan sebagai beban yang harus disingkirkan secara perlahan dan diam-diam.
Pengakuan tobat setahun lalu ternyata hanyalah cara untuk melepaskan diri dari jerat hukum, agar semuanya bisa berulang tanpa pengawasan.
Kepura-puraan itu dibayar mahal—bukan oleh pelaku, melainkan oleh seorang anak yang kehilangan masa depan.
Kini, penyesalan sang ayah datang terlambat. De Nizam telah pergi, membawa serta luka dan cita-cita sucinya untuk tumbuh menjadi insan berilmu dan berguna. Yang tersisa hanyalah kesadaran pahit bahwa kepercayaan yang salah bisa berujung pada kehilangan yang tak tergantikan.
Dan di balik citra pegawai yang selama ini dijaga, runtuhlah sebuah topeng—menyisakan pertanyaan besar tentang bagaimana kejahatan bisa bersembunyi begitu rapi di balik wajah yang tampak paling dipercaya.
Wonk Alit/ Jejen/ SRC




